Akomodasi · Beranda · Jogja · Review

Hotel Ibis Adisucipto: Hotel Istimewa Di Pusat Kota Yogyakarta

IMG_20180215_103506-01
Kamar Hotel Ibis Adisucipto dengan desain modern minimalis

Salah satu hal yang menyenangkan namun ribet dalam persiapan sebelum traveling itu adalah memilih akomodasi, secara budget akomodasi ini mengambil porsi yang besar dalam anggaran traveling keseluruhan disamping tiket pesawat.

Banyak hal yang dipertimbangkan sebelum memutuskan akan tinggal di hotel mana selagi traveling. Pas hunting hotel di berbagai website online travel agent, banyak sekali hotel yang bisa dipilih sesuai keinginan. Pusing ya musti pilih yang mana karena tiap hotel memiliki keistimewaan sendiri.

Sebagai traveler yang memiliki budget terbatas, tentu saja hal pertama yang jadi pertimbangan saya dalam memilih hotel adalah harganya. Tentu saja saya ingin menginap di hotel yang memberikan kemanjaan maksimal dengan harga terjangkau di kantong.

Hotel Ibis masuk kategori hotel pilihan karena saya pernah memiliki pengalaman berkesan menginap disalah satu jaringan hotel Ibis yaitu Ibis Style Malioboro Yogyakarta. Selain Ibis Style, masih ada dua hotel Ibis lainnya di kota Yogya yaitu Ibis Malioboro dan Ibis Adisucipto.

Beberapa kali saya ke Yogya, saya menginap di hotel di area Malioboro, maka selanjutnya saya ingin mencoba menginap di area lain yang tidak hanya berada di kawasan Malioboro yang ramai.

Berhubung sekarang saya tinggal di Yogya dan sering diminta merekomendasikan hotel ke teman-teman dan saudara, maka dengan senang hati saya akan merekomendasikan ke teman-teman dan keluarga untuk menginap di Hotel Ibis Adisucipto Yogyakarta, hotel istimewa di pusat kota Yogya.

Ada beberapa alasan yang menjadikan Hotel Ibis Adisucipto layak direkomendasikan sebagai pilhan akomodasi selama traveling di Yogya. Beberapa alasan tersebut akan saya ulas agar traveler bisa mempertimbangkan akomodasi yang dipilih dengan budget berjumlah sekian,  apa saja yang akan didapat agar travelingnya menyenangkan tanpa drama salah memilih hotel, padahal sudah keluar biaya yang cukup besar untuk akomodasi yang berujung mood rusak selama traveling.

Apa saja keistimewaan Hotel Ibis Yogyakarta? Sila dibaca sampe ke bawah ya gaes:

Lokasi strategis

Lokasi Hotel Ibis Adisucipto ini premium banget, berada di tengah kota dan dekat kemana aja. Mau ke Bandara Adisucipto kurang dari 10 menit dengan kendaraan bermotor, kepengen nonton bioskop di Cinemaxx dan belanja, tamu tinggal berjalan kaki saja karena Lippo Mall ada di samping hotel.

Masih belum puas belanja dan cuci mata, kita bisa ke Ambarukmo Plaza, mall paling hits di Yogya,  kurang dari lima menit berkendara dari hotel. Tapi kan nggak lengkap kalau ke Yogya tanpa mengunjungi kawasan Malioboro dan Tugu Yogya. Santai dan selow aja gaes, dengan kendaraan bermotor, lokasi tersebut dapat dijangkau dalam waktu sepuluh menit saja asalkan bensin diisi.

Jika ingin mencoba transportasi umum di Yogya yaitu Trans Yogya, di depan hotel Ibis ada halte trans Yogya yang melewati rute berbagai area penting yang ada di Yogya seperti Malioboro, Pasar Beringharjo, Keraton, Kotegede, UGM, terminal Giwangan, bandara Adisucipto dan tempat-tempat wisata lainnya.

Pengen nyoba jajan kuliner lokal di sekitar hotel, nah di seberang hotel Ibis kalau pagi hari ada penjual soto kaki lima sementara kalau malam warung tenda diseberang hotel menjual berbagai makanan berat yang bisa dipilih sebagai kuliner malam. 

Mau nyoba tempat nongkrong yang asik terutama bagi pecinta kopi dan pengabdi selfie, di seberang hotel Ibis ada beberapa tempat ngopi atau coffee shop yaitu Hayati Coffee dan Kopi Ketjil.

Lokasi hotel yang strategis memberikan banyak manfaat bagi tamu hotel yaitu bisa menghemat waktu dan tenaga. Dengan menginap di hotel yang dekat ke berbagai destinasi wisata, bandara dan tempat belanja, tamu tidak menghabiskan banyak waktu di perjalanan dan masih memiliki energi yang bisa dipakai untuk hal lain.

Kalau saya terlalu capek malah menjadi sulit tidur, jangan sampai hal seperti ini terjadi karena bisa mengganggu mood traveling jika kurang tidur.

Fasilitas lengkap

Sebagai hotel bintang tiga, Hotel Ibis Adisucipto memiliki fasilitas yang lengkap bagi para tamu. Ada 16 ruang pertemuan termasuk ballroom untuk pesta pernikahan, tempat fitnes, spa, restoran dan kolam renang.

IMG_20180210_145722-01

Bagi saya yang senang berenang, kolam renang di hotel Ibis ini sangat menyenangkan karena lokasinya ada di lantai paling atas dan dekat restoran sehingga bisa sekalian menikmati sunset sore hari sambil berenang atau nongkrong di restoran.

IMG_20180210_144007

IMG_20180210_143303_HDR

IMG_20180210_142855_HDR

Ada 144 kamar dengan dua tipe yaitu superior king dan superior twin. Di dalam kamar terdapat toilet, lemari baju, TV flat, meja kerja, lampu baca dan water cattle beserta gelas, teh, kopi dan kawan-kawannya.

IMG_20180210_150817_HDR-01

IMG_20180210_150414-01
Personal care di dalam toilet yang disediakan hotel

Toilet di dalam kamar berisi closet, kaca besar dan shower, dimana tempat closet dan shower terpisah. Di dalam toilet juga disediakan personal seperti sabun, shower cap, sikat gigi dan lain-lain.

Desain dan konsep modern

Waktu pertamakali masuk ke dalam hotel, hal yang menarik perhatian saya adalah interior hotel yang didominasi warna merah cerah, dengan desain ruangan dan furnitur yang modern minimalis untuk memanfaatkan space yang terbatas dengan maksimal. 

Meja resepsionis hotel sebagai tempat pertama tamu berinteraksi memiliki desain yang unik terutama dindingnya yang menggunakan sentuhan teknologi visual yang modern dan futuristik ditambah lagi busana resepsionis hotel juga stylish dan berjiwa muda. Saya suka sekali dengan desain meja resepsionis hotel Ibis ini sehingga sering saya pandangi berlama-lama.

IMG_20180210_145947_HDR-01

Kamar hotel juga di desain modern dan minimalis namun tetap terasa lega di dalam kamar karena penggunaan bentuk furnitur yang pas. 

Bagian yang mencuri perhatian saya adalah adanya meja kerja di dekat jendela sehingga saya dapat membaca, menulis atau melamun di meja kerja sambil menatap pemandangan di luar jendela, apalagi jika hujan atau malam hari, membuat suasana menjadi manis dan romantis. Inspirasi bisa datang untuk menulis puisi atau draft blog saat suasana mendukung.

IMG_20180210_145938_HDR

Selain desain kamar, bagian yang menarik lainnya adalah desain toilet. Biasanya toilet desainnya ruangan kotak biasa tetapi di Hotel Ibis Adisucipto desain toilet berbentuk oval seperti telur yang jika dilihat dari luar seperti tidak ada toilet di kamar hotel ini, begitu pintu berbentuk oval dibuka, maka tampaklah closet, kaca besar dan ruangan shower di dalamnya. Ukuran toiletnya mungil tetapi lengkap di dalamnya.

IMG_20180210_150432-01

Kebersihan dan kerapihan terjaga

Hal penting yang saya perhatikan saat memilih hotel adalah tingkat kebersihan hotel tersebut, ini dapat dilihat dari review di web pemesanan hotel untuk nilai kebersihan. Selama saya berada di hotel Ibis, saya memperhatikan kebersihan dan kerapihan hotel ini terjaga, baik itu di kamar, di area lobby, restoran bahkan toilet semua bersih. Saya suka aroma pewangi di dalam toilet hotel Ibis, aromanya wangi khas seperti di tempat spa.

Beberapa kali saya melihat petugas kebersihan sedang membersihkan hotel di berbagai tempat, ditambah lagi sigap dalam merapikan tempat makan yang sudah tidak digunakan selagi saya sedang makan siang di hotel. Saya menghargai sekali usaha dari pihak hotel dalam menjaga kebersihan dan kerapihan hotel.

Pelayanan ramah

Saya merasakan keramahan pihak hotel yang dimulai dari meja resepsionis, kemudian pelayan restoran bahkan petugas kebersihan juga menyapa para tamu yang datang ke hotel. Meskipun hotel berlokasi strategis dengan fasilitas lengkap jika karyawan hotel tidak bersikap ramah dengan tamu maka tamu tidak akan datang kembali atau merekomendasikan hotel kepada keluarga atau teman-teman mereka.

Keramahan pelayanan sepertinya hal kecil namun berdampak besar bagi usaha yang bergerak dibidang hospitality. Tamu diperlakukan layaknya keluarga sendiri sehingga mereka akan datang kembali. Keramahan seperti ini yang diharapkan oleh tamu hotel. Hotel Ibis Adisucipto Yogya memberikan keramahan pelayanan yang memuaskan bagi saya.

Internet kencang

Sebagai pengabdi wifi kencang, syarat penting sebuah hotel asyik adalah fasilitas internet kencang karena memudahkan pekerjaan mobile saya. Meskipun sedang traveling kadang pekerjaan dan tugas kuliah mesti tetap saya kumpulkan dimanapun saya berada sehingga kebutuhan internet kencang sangat vital. Pernah saya seharian penuh hanya berada di hotel karena mengerjakan laporan penelitian yang harus dikumpul esok harinya dan saya mengandalkan komunikasi dan pengumpulan data penelitian dari teman-teman saya lewat internet. Kalau internet tidak kencang maka pekerjaan saya jadi terhambat.

Di Hotel Ibis Adisucipto internetnya kencang, saya mencobanya sewaktu berada di hotel, kegiatan saya bersosial media sangat lancar. Upload foto-foto kece di hotel lewat Intagram dan membuat instastory di tanpa buffer sehingga follower saya bisa ngeliat pengalaman saya menikmati hotel Ibis. Selain itu internet kencang dapat digunakan untuk berkomunikasi via whatsapp call atau video call dengan keluarga. Selama traveling jangan sampai tidak bisa menghubungi keluarga karena masalah nggak ada internet atau internet lemot.

Dengan adanya internet kencang, tamu hotel sangat terbantu baik urusan komunikasi, pekerjaan maupun sekedar update status di sosial media.

Makanan Enak

Saya makan siang ala buffet dan mencoba kudapan di Hotel Ibis Adisucipto. Variasi makanannya cukup banyak dan rasa makanannya juga enak. Hotel memadukan menu tradisional dan modern sehingga kita bisa memilih menu yang sesuai di lidah.

IMG_20180210_155606-01

IMG_20180210_151717-01

Saya suka sekali kudapan yang terbuat dari coklat di hotel Ibis, rasa coklatnya lezat dan pas di lidah saya. Saya sampai makan cake coklat lebih dari dua. Saya berpikir besok saja dietnya sist hehehe.

Harga terjangkau

Lokasi strategis, fasilitas oke tetapi harga mahal terkadang membuat saya mengurungkan menginap di sebuah hotel. Namun demikian Hotel Ibis Adisucipto Yogyakarta dengan segala keistimewaan yang saya ulas di atas menawarkan harga yang masih terjangkau di kantong saya. Harga hotel di rentang Rp 400-500 ribuan sepadan dengan keistimewaan yang dimilikinya.

Saya merekomendasikan untuk teman-teman yang ingin traveling ke Yogyakarta yang bingung mau menginap dimana karena banyaknya hotel yang ada di kota Yogya, kalian bisa mempertimbangkan untuk menginap di Hotel Ibis Adisucipto Yogyakarta dan momen traveling teman-teman menjadi memori istimewa dan tak terlupakan.

Kapan nih kalian main ke Yogya, Pink tunggu ya 🙂

Happy Traveling :)))

 

Iklan
Beranda · kuliner

Mango Tango: Tempat Jajan Dessert Serba Mangga Di Bangkok

Mango Tango Bangkok

Life is sweets. Tulisan ini nampang gede banget di depan kios (((kios))) Mango Tango di Siam Square, warnanya kuning membuat siapapun yang lewat area ini kemungkinan besar pasti ngeliat atau aware ada tempat lucu bernama Mango Tango. Meskipun hidup tidak selalu manis karena sering dikecewakan dengan janji-janji manis (jiahahaha) tapi di Mango Tango kita akan merasakan hal yang manis di sini, karena semua minuman dan makanan yang dijual rasanya manis dan semuanya terbuat dari mangga.

Demam minuman semacam mango smoothie atau mango float di Indonesia bisa jadi terinspirasi idenya dari negara Thailand.  Di negara gajah putih ini, mangga memang termasuk produk pertanian unggulan yang ketersediaannya ada terus di pasar karena beberapa kuliner Thailand terbuat dari mangga seperti mango sticky rice. Saya sering membeli buah mangga di pasar atau pinggir jalan saat traveling ke Bangkok, rasa mangga Thailand memang manis dan daging  buahnya tebal sehingga dimakan sebagai buah potong atau diolah menjadi beragam variasi dessert rasanya tetap manis dan enak.

Waktu pertama kali ke Bangkok, saya tidak banyak browsing tempat makan apa saja yang wajib saya kunjungi selama di sini karena waktu itu saya habis traveling ke Hong Kong yang dilanjut ke Bangkok seminggu kemudian, sehingga saya tidak memiliki persiapan yang cukup untuk mengisi waktu selama seminggu di Bangkok. Alhasil saya hanya berkunjung ke tempat wisata yang ramai dikunjungi turis.

Pada kali kedua traveling ke Bangkok, saya tidak pergi sendirian melainkan bersama tiga adik saya yang semuanya cewek, berhubung teman jalan semuanya cewek, maka tempat yang paling sering kami kunjungi adalah tempat makan dan tempat shopping. Cewek mana yang tahan godaan barang-barang lucu dan juga jajanan yang murah meriah di Bangkok. Pengen minta dinikahin sama Fahri yang tajir kalau lagi mabok belanja kayak gini, tapi gak jadi karena ingat nggak bakal kuat hati kalau dipoligami buahaha.

Interior di dalam Mango Tango

Lokasi Mango Tango berada di deretan ruko-ruko di samping mall Siam Centre Point, waktu saya ke sana kios Mango Tango ini sedang ramai, pengunjung yang ingin makan di sini harus antri. Saya mendapatkan nomor antrian 13, kepalang tanggung sudah sampai ke Mango Tango, saya bersedia bersabar menunggu untuk mendapatkan meja dan memesan makanan. Sebelum antrian dipanggil, saya bisa memilih menu lebih dahulu, karena hanya sekedar ingin mencicipi dessert di Mango Tango maka saya hanya memesan satu dessert saja, rupanya tidak boleh memesan satu jika yang datang ada dua orang (hahaha, nggak jadi nih berhemat), terpaksalah pesan dua jenis dessert yang berbeda biar bisa saling icip-icip (ogah rugi ya alias medit wkwkwk).

Mengantri ya sist
Harus sabar menunggu antrian

Harga dessert di Mango Tango ini lumayan mahal untuk ukuran makanan di Bangkok. Harganya mulai dari Rp 40 ribu kalau dirupiahkan. Setelah menentukan menu, saat nomor saya dipanggil, saya tinggal menyebutkan nama dessert yang saya pesan dan langsung dibayar di kasir. Pelayan akan menunjukkan meja dan tempat duduk. Berhubung saya datang pada jam 2 siang saat cuaca panas dan banyak yang pengen ngadem sambil makan yang manis dan segar maka Mango Tango ini ramai sekali, akibatnya saya harus menunggu cukup lama sampai menu pesanan saya datang disajikan di meja.

Ramai yang makan dessert di Mango Tango
Waiter dan waitress pakai seragam kece

Datanglah dua dessert pesanan saya yaitu mango sticky rice dan mango tango apalah…apalah lupa namanya. Penampilan mango sticky rice benar-benar menggoda mata, ditata sedemikian rupa sehingga jadi sayang buat dimakan. Di dalam piring disajikan satu scoop ketan gurih, satu scoop es krim mangga berwarna kuning, pudding dan setengah buah mangga yang dipotong-potong, dilengkapi dengan topping whipped cream dan garnish daun mint. Membuat siapapun akan langsung mengambil hape trus cekrek lalu upload di instagram tak lupa juga membuat instastory untuk merekam pengalaman makan mango sticky rice biar pamer di sosial media nggak nanggung.

Penampilan mango sticky rice di Mango Tango

Bagaimana rasa dari mango sticky rice di Mango Tango? Rasanya enaaaak banget, seperti meleleh di lidah campuran es krim, ketan dan mangga menimbulkan sensasi nikmat yang nagih, mungkin ini yang disebut food orgasm. Porsinya pas meskipun untuk ukuran saya maunya makan dua porsi tapi mengingat harganya yang cukup mahal apalah daya, makan satu saja sudah bersyukur banget.

Bagaimana dengan dessert satunya lagi yang saya pesan? Dessert ini namanya saya lupa yang jelas ada kata mango tango apalah..apalah gitu yang sewaktu datang ke meja disajikan di dalam mangkok yang isinya es krim mangga dan buah-buahan potong terutama buah mangga. Ya iyalah ya namanya juga Mango Tango, semua dessertnya terbuat dari mangga. Rasa dessert mango tango apalah…apalah ini enak tapi nggak begitu istimewa seperti mango sticky rice.

bikin ngiler ya dessert Mango Tango ini

Saya salut dengan Mango Tango yang bisa mengubah buah mangga menjadi dessert menarik yang disajikan dengan tampilan cantik dan dimakan di tempat yang fancy serupa cafe. Pengen rasanya konsep seperti ini dibawa ke Indonesia karena negara kita kaya buah-buahan lokal. Yuk mari yang mau investasi bisa ajak Pink untuk usaha kuliner.

Meskipun mungil, kios Mango Tango di desain dengan unik dan lucu sehingga cocok buat masuk di feed instagram. Pengunjung yang datang juga banyak turis dari luar Thailand karena Mango Tango ini masuk dalam list tempat makan yang direkomendasikan oleh TripAdvisor.

Mango Tango juga jualan souvenir khusus tema Mango Tango

Dilihat dari tempat, rasa dan penampilannya, saya rasa harga Rp 40 ribu yang dibayar untuk mango sticky rice satu porsi sepadan dengan apa yang pengunjung dapatkan. Saya merekomendasikan Mango Tango sebagai tempat makan dessert serba mangga yang harus dicoba minimal sekali. Saya berpikir membeli pengalaman lebih penting dibandingkan membeli barang, mencicipi jajanan unik di tempat fancy adalah salah satunya.

Selama berada di dalam Mango Tango dan makan mango sticky rice, saya merasakan bahwa life is sweet namun setelah keluar saya menyadari bahwa life is bitter sometimes oleh karena itu saya harus rajin nyari duit biar bisa beli tiket ke Bangkok dan leyeh-leyeh di hotel sambil menatap manja oppa Gong Yoo dan bilang ke dia “ with me, life is sweet Beb” :0.

Happy traveling 🙂

 

Beranda · Curhat Cewek

Resign Demi Traveling, Perlukah? 

Ada hari-hari dimana saya merasa sangat cemburu. Bukan, bukan cemburu dengan gebetan yang jalan dengan cewek lain tetapi perasan mellow di hati melihat teman-teman yang posting foto-foto seru liburan atau traveler idola yang bisa traveling dalam jangka waktu lama sementara diriku sedang hectic di meja kerja mengerjakan pekerjaan kantor seperti tidak ada habisnya. Kapan ya saya bisa puas traveling dalam waktu lama kayak mereka?

Saya berpikir tentang pekerjaan yang saya jalani sekarang yang hanya memiliki jatah libur tiga kali dalam setahun (kayak bang Toyib) yaitu pas libur semester satu sekitar 2 minggu di bulan Juli, libur lebaran dan libur semester dua akhir Desember, dimana tiga bulan tersebut masa peak season yang artinya tiap kali saya traveling biayanya membengkak kek jerawat menjelang mens plus tempat-tempat wisata yang ramainya ampun-ampunan kayak kolam cendol.

Tulisan-tulisan fulltime traveller dan travel blogger asal dalam negeri dan luar negeri tentang enaknya atau indahnya hidup mereka setelah resign dari kantor atau tempat mereka bekerja meracuni pikiran saya. Sepertinya hidup saya akan bahagia jika resign dari kantor dan pergi traveling sesuka hati ke berbagai tempat tidak terikat waktu. Lalu pertanyaan lain muncul, bukankah traveling membutuhkan biaya? Wait… wait, buyar sudah khayalan indah itu.

Lantas darimana saya mendapatkan uang untuk biaya traveling dalam jangka waktu yang lama jika saya resign? Saya tak punya papa sakti seperti Setnov apalagi sugar daddy yang bisa kasih transferan kapan aja minta hahaha.

Pusing ya kan, ya iyalah mikirnya aja udah pusing apalagi menjalaninya.

Mulailah saya melakukan observasi ke beberapa fulltime traveler (saya sebut begini untuk yang traveling dalam waktu lama atau nomad istilahmya) dan travel blogger femes lokal dan internasional. Saya pisahkan antara fulltime traveler dan fulltime travel blogger karena banyak fulltime traveler yang tidak menjadi travel blogger. Saya mengamati medsos traveler dan membaca banyak blog travel blogger.  Hasilnya ternyata fulltime traveler resign dari kantor atau perusahaan tempat mereka bekerja tetapi mereka tetap bekerja dengan berbagai skill yang mereka miliki, hanya saja mereka bekerja secara mandiri misalnya jualan online, web developer, konsultan, content writer, freelancer dan masih banyak lagi.

Sementara fulltime travel blogger resign dari kantor karena ingin total traveling sekaligus menulis cerita perjalanannya di blog. Travel blogger jenis ini umumnya memiliki skill kuat di bidang penulisan, fotografi, videografi, self branding, digital dan sosial media specialist sehingga skill mereka sering digunakan oleh perusahaan, brand atau institusi tertentu untuk berbagai keperluan, umumnya untuk promosi pariwisata. Para travel blogger femes ini membiayai traveling mereka dari hasil menjual skill tersebut.

Saya ambil contoh dua cewek traveler idola saya sepanjang masa yaitu Trinity dan Claudia Kaunang. Sebelum menjadi terkenal seperti sekarang kak T dan CK adalah mbak-mbak kantoran lalu memutuskan resign karena ingin lebih sering traveling tanpa terganjal cuti yang terbatas. Kak T ini menulis blog, lalu penerbit melirik tulisannya hingga menjadi buku seri TNT (The Naked Traveler) kemudian diangkat ke layar lebar menjadi film The Nekad Traveler yang dibintangi Hamish Daud dan Raisa eh Maudy Ayunda. Mbak T bisa membiayai aktivitas traveling salah satunya dari hasil royalti buku-buku TNT.

Claudia Kaunang juga menulis banyak buku panduan perjalanan berdasarkan pengalamannya traveling. Saya suka membeli dan membaca buku-buku CK karena detil sekali menjelaskan destinasi wisata berikut budgetnya. Kak CK selain menulis buku juga menjual trip ke beberapa destinasi wisata ke luar negeri dengan budget murah dan bahkan bisa ikut arisan traveling.

Dari dua contoh traveler diatas, saya menarik kesimpulan bahwa mereka memang tidak bekerja di kantor tapi tetap bekerja. Bukan bekerja tetap tapi tetap bekerja itu poinnya. Masyarakat awam yang menganggap bahwa bekerja itu musti di kantor dari jam 7 atau 8 pagi sampai jam 4 sore akan mengganggap bekerja mandiri tanpa kantor sebagai pengangguran, hiks.. hiks. Siap-siap saja resikonya kamu dianggap pelihara tuyul atau pasang lilin untuk aktivitas babi ngepet karena bisa jalan-jalan tanpa bekerja 🙂

Tidak banyak fulltime traveler dan travel blogger yang mau menceritakan rahasia dapurnya darimana mereka membiayai travelingnya. Bisa saja fulltime traveler atau travel blogger tersebut adalah juragan kebun jengkol, nerima warisan dari orang tua, punya jaringan bisnis waralaba, pemilik saham perusahaan multinasional dan bisa jadi pemilik usaha travel.  Citizen dan netizen sering terpukau dengan foto-foto traveler di instagram yang cetar dan memikat, begitu juga cerita-cerita indah di blog tentang destinasi wisata di berbagai negara. Mereka tidak tahu pengorbanan dan kerja keras seperti apa yang dilakukan untuk bisa seperti itu.

Kesimpulan dari hasil observasi yang saya lakukan adalah jika saya memutuskan resign dari kantor, pekerjaan apa yang akan saya lakukan selama traveling dalam waktu lama. Lalu saya galau, hati saya mengkeret mengingat tidak ada skill yang bisa saya jual, tidak punya koneksi ke agency atau brand, tidak ada saham dan deposito yang saya miliki, tabungan juga jumlahnya bikin mengelus dada, dada sendiri, ditambah lagi masih ada cicilan kredit Tupperware, daster dan panci, tidak punya warisan dan bukan ani-ani yang punya gadun tajir yang bisa diporotin duitnya.

Trus gimana dong kalau sudah begini?

Saya harus menerima nasib tetap jadi karyawan kantoran yang dikejar deadline, musti ketemu bos yang nggak saya suka, musti bangun pagi sambil menggerutu dan pulang kecapekan saat malam. Begitu terus setiap hari selama 6 tahun, rutinitas yang harus saya jalani demi bisa terima gaji rutin ditanggal 28 setiap bulan.

Tujuh bulan lalu saya memutuskan untuk resign dari kantor tempat saya bekerja selama 6 tahun. Sungguh ini keputusan yang tidak mudah bagi saya, terlalu banyak what if di kepala yang membuat saya maju-mundur mengambil keputusan tersebut .

Saat saya menulis cerita ini di blog dan mempostingnya hari ini, saya sedang berada di perpustakaan kampus UGM Yogyakarta untuk menikmati paket internet gratis untuk mahasiswa agar cerita ini bisa diposting :). Resign adalah keputusan yang saya syukuri pada akhirnya meskipun saya harus menanggung konsekuensi menjadi mahasiswa perantauan, hidup sebagai anak kos yang harus berhemat dan tidak bisa traveling ke luar negeri seperti saat bekerja dulu tapi saya hepi menjalaninya.

Keluar dari zona nyaman memang sulit dan berat oleh karena itu jangan resign karena ikut-ikutan orang lain yang menceritakan betapa enaknya traveling setelah resign, setiap orang memiliki kondisi dan latar belakang yang berbeda-beda. Hanya kamu sendiri yang paling tahu tentang dirimu, kekuatan, kelemahan, ketakutan-ketakutan dan kegalauanmu, berilah cukup waktu ke dirimu sendiri untuk berpikir, menimbang, menghitung dan mempersiapkan sebelum mengambil keputusan untuk resign karena setelah resign kamu tidak bisa mundur atau memutar waktu untuk kembali.

Banyak uang tapi tidak bisa puas liburan kemudian punya banyak waktu liburan tapi tidak punya banyak uang, hayoo kamu akan pilih yang mana :)))

#laiff

Destinasi · Hang Out · kuliner

5 Alasan Untuk Mengunjungi Pasar Papringan Temanggung

Mengunjungi pasar tradisional selalu menjadi kegiatan yang menarik buat saya, alasannya sederhana karena saya suka jajan makanan lokal dengan harga yang murah. Selain jajan, saya juga bisa cuci mata melihat sayur atau buah yang dijual di pasar yang sukses bikin ngiler. Kalau mau melihat budaya masyarakat dan hasil bumi suatu daerah, pasar tradisional juga bisa jadi pilihan untuk dikunjungi.

Saat mengikuti rangkaian famtrip dinas UMKM Provinsi Jawa Tengah, blogger dan jurnalis diajak untuk mengunjungi Pasar Papringan di desa Ngadiprono Temanggung. Itu pasar apaan ya hati saya bertanya? Apa istimewanya pasar Papringan dibandingkan pasar tradisional lainnya yang sering saya kunjungi di berbagai daerah di Indonesia?. Saya sangat penasaran karena acara mengunjungi pasar ini hukumnya wajib, bahkan rombongan kami harus check out setelah sholat shubuh dari penginapan di Dieng Wonsobo agar tidak datang terlambat ke pasar Papringan. Lanjutkan membaca “5 Alasan Untuk Mengunjungi Pasar Papringan Temanggung”

Beranda · Event · Review

HIJUP X Arisan Resik: Berbagi Rahasia Keluarga Harmonis

Blogger-blogger Yogya di acara HIJUP Bloggers Meet Up feat Arisan Resik

Saya merasa senang sekaligus penasaran sewaktu mendapatkan undangan untuk menghadiri acara HIJUP Meet Up Bloggers X Arisan Resik di Greenhost Boutique Hotel Prawirotaman karena bakal ketemu blogger-blogger kece dari Jogja, ditambah lagi ada acara arisan. Sudah lama sekali saya tidak ikut arisan sejak resign dari kantor, pasti seru deh acara ini.

Beberapa hari sebelum datang ke acara, saya sudah heboh sendiri sebabnya ada aturan untuk memakai dress code serba hijau. Outfit yang saya miliki didominasi warna pink tapi demi tampil maksimal di acara #HIJUPbloggersmeetup, saya hunting ke beberapa toko pakaian untuk mendapatkan outfit serba hijau.

Lanjutkan membaca “HIJUP X Arisan Resik: Berbagi Rahasia Keluarga Harmonis”

Beranda · Destinasi

Serunya Hunting Mural Art Di Georgetown Penang 

Jika saya ditanya dimana tempat di Malaysia yang selalu saya ingin datangi kembali maka dengan pasti saya akan menjawab Penang. Apa istimewanya Penang? Jawabannya sederhana karena di Penang kulinernya enak-enak dan suasana Georgetown menyenangkan untuk explore dengan berjalan kaki.

Ini kali kedua saya mengunjungi Penang karena merasa kangen untuk jajan street food di pinggir jalan kota Georgetown. Rasa char kuey teow goreng yang lembut dengan rasa gurih sedikit manis menari-nari di lidah lalu setelah itu ditutup dengan ais cendol dingin yang segar, kenikmatan hakiki seperti ini terekam dalam ingatan sehingga membuat saya selalu ingin kembali ke Penang.

Lanjutkan membaca “Serunya Hunting Mural Art Di Georgetown Penang “

Beranda · kuliner

Pisang Aroma : Oleh-Oleh Istimewa Dari Temanggung

Ibu-ibu sedang membuat pisang aroma

Beberapa tahun yang lalu saya pernah berlibur ke Yogyakarta, sebelum balik ke Palembang, saya mampir ke toko oleh-oleh yang ada di sekitar Malioboro. Banyak jenis oleh-oleh yang dijual di toko, salah satunya pisang aroma. Selain bakpia, saya juga membeli pisang aroma karena unik dan penasaran bagaimana rasanya karena oleh-oleh yang terbuat dari pisang yang pernah saya beli itu adalah sale pisang dari Bandung dan keripik pisang dari Lampung.

Beruntung bagi saya mendapatkan undangan dari Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Propinsi Jawa Tengah untuk mengunjungi salah satu tempat pembuatan pisang aroma di Dusun Sarangan, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung. Tidak menyangka oleh-oleh yang pernah saya beli dulu bisa dilihat secara langsung proses pembuatannya dikemudian hari. Lanjutkan membaca “Pisang Aroma : Oleh-Oleh Istimewa Dari Temanggung”