Akomodasi · Beranda · Romance

Pengalaman Sekamar Dengan Traveler Korea Di Hostel

img_20150627_121733
Kamar dorm cewek di Hostel Hongkong yang super sempit

Menunggu hampir 2 jam sambil nahan pup dan pipis di atas ranjang adalah siksaan paling bangke dikarenakan 2 orang cewek Korea teman sekamar gue lama banget dandan. Mereka menguasai semua area kamar termasuk toilet. Kamar hostel di Hongkong emang sempit banget saking mungilnya mau lewat aja susah.

Mereka berdua lewat bolak-balik kayak setrikaan antara tempat tidur dan toilet karena kaca ada di toilet sementara peralatan lenong alias alat make up ada di kamar, ditambah drama soft lense salah satu cewek yang bermasalah, hingga membuat si cewek merepet panjang lebar dengan suara kenceng pake bahasa Korea bukan bahasa Batak, ya iyalah namanya juga orang Korea.

Mungkin mereka berdua berasa member SNSD, girlband paling gress abad ini yang mau perform di atas panggung konser, seperempat koper isinya peralatan make up sampe catok rambut yang bisa bikin rambut curly juga dibawa. Hedeuh mereka ini traveler atau beneran member girlband ya.

Tapi harus gue akui teknik dandan ala Korea ini menakjubkan sekali, antara before dan after nya bisa beda banget. Pantes di drama Korea cewek-ceweknya bening-bening dan cakep, bisa jadi itu karena trik make up yang canggih plus perawatan kulit yang step-stepnya bisa sampe sepuluh.

Untuk bisa tampil sempurna cewek Korea butuh 2 jam dandan, hmmm sepertinya cewek Korea tidak akan cocok dengan cowok Indonesia yang nunggu buat masang alis plus pake lippen aja komplain.

Belum lagi malam besoknya mereka dugem di club paling happening di area hiburan Lan Kwai Fong Hongkong sampai pagi. Jam 3 atau 4 pagi mereka baru pulang, gue yang sensitif dengan suara pintu harus terbangun plus mereka ngobrol kenceng dengan bahasa Korea. Pengen gue lempar  pake botol BB cream made in Korea saking sebelnya sambil ngomel tiga kata wajib untuk bercakap dengan mereka yaitu anyeong haseyo, gamsahamida dan sarangheyo.

Dua cewek Korea yang satu kamar dan berbagi ranjang dengan gue itu kayaknya emang cocok banget jadi temen, mereka saling melengkapi satu sama lain. Satu cewek berbadan semok, berpipi chubby dan rambut panjang di curly agar terlihat lebih tebal dan sexy sementara yang satunya berbadan kurus, ramping dan berambut pendek dengan gaya santai. Dan mereka memiliki satu persamaan yaitu sama-sama nyebelin.

Pagi-pagi lantai di kamar hostel basah karena mereka jemur underwear di balik pintu kamar, huaaaa luar binasa kedua cewek ini. Sejorok-joroknya gue di tanah air gak bakal bikin malu bangsa dan negara gegara urusan underwear. Untung pengelola hostel ini membersihkan hostel setiap hari sekitar jam 10 pagi dan gue juga cuma menginap selama 2 hari. Kalau lebih bakal tambah esmosi, tapi gue mencoba maklum karena mereka masih muda dan masih anak kuliahan walaupun wajahnya tampak lebih tua alias mirip tante-tante dandanannya.

Inilah resiko kalau menginap di hostel tipe dorm, kita musti menghadapi tingkah polah ajaib teman-teman satu kamar kita.

Traveling memang memberikan pengalaman bitter and sweet bersamaan, teman sekamar yang bangke tingkahnya diobati dengan pertemuan manis gue dengan oppa Korea yang cute dan lucu di dining room hostel.

Gue yang emang cuek tapi menggemaskan masuk ke dalam dining room sambil membawa tumbler Tupperware warna pink, memasukkan sebungkus mie gelas dan bumbunya lalu menyeduh mie dengan air panas dan mengaduknya. Semua prosesi singkat tahapan membuat mie gelas dalam 3 menit gue kerjakan di depan oppa Korea yang sibuk menulisi pesan di kartu pos, si oppa tidak terganggu dengan acara gue makan mie, sampai…sampai sendok plastik yang gue pake untuk makan mie patah jadi dua karena gue makannya emang gak pake manner ala Miss Universe.

Si oppa Korea tertawa melihat sendok gue patah dan kami akhirnya berkenalan. Si Oppa Korea ini bernama Hansol, berbahasa Inggris lancar, bekerja sebagai engineer dan tinggal di Daegu Korea. Du…du…cowok berwajah oriental dan berkacamata kayak Hansol ini membuat gue langsung mendadak kenyang saat dia meminta gue ambil sendok stainless di dapur dan makan lagi mie gelas.

Hilang sudah rasa lapar dan gue mengingat-ngingat bahasa Korea yang sering gue dengar di drama Korea dan ingin dipraktekkan saat ngobrol dengan Hansol. Tapi kata-kata yang gue ingat cuma “sarangheyo oppa”.

Hansol meminta no HP gue cyiin dan menanyakan akun Line gue, karena orang Korea pakenya Line sementara gue pakenya WA buat komunikasi, tapi Hansol rela membuat akun WA malam itu demi berkomunikasi dengan gue. Besok jadwal Hansol eksplore Flower Market di Hongkong sementara besok jadwal gue ke Ngong Ping Village naik cable car dan hari terakhir gue di Hongkong untuk selanjutnya pergi ke Makau.

Malam itu kami berbincang-bincang lama dari topik yang penting sampai nggak penting banget.

Hati gue bimbang,  Hansol mengajak untuk mengunjungi  Flower Market bersama-sama tapi gue gak bisa mengubah jadwal karena naik cable car adalah impian gue selama traveling di Hongkong . Hansol dan Flower Market memang manis, cute dan lucu untuk ditolak tapi impian gue adalah naik cable car.

Besoknya di perjalanan gue menuju Ngong Ping Village untuk naik cable car, Hansol mengirim pesan lewat Whatsapp bahwa ia menyayangkan bahwa ini hari terakhir gue di Hongkong dan dia say good bye sambil berharap dapat bertemu gue lagi suatu hari nanti. Dia menjelaskan bahwa cuti kerjanya terbatas dalam setahun jadi dia tidak bisa traveling sesering mungkin.

Hansol you are so sweet, sarangheyo oppa… (cuma di dalam hati kok). Hari itu langit Hongkong biru cerah padahal setiap hari mendung dan hujan rintik…rintik. Sama seperti hati gue.

Gue bertemu dengan traveler dari negara yang sama yaitu Korea tapi mendapatkan dua cerita berbeda. Manis saat bersama Hansol dan asem saat sekamar dengan dua cewek Korea yang udah gue ceritakan diatas. Jadi gak ada alasan gue menjudge bahwa traveler dari negara X itu pasti begini dan dari negara Y itu pasti begitu.

Dulu waktu awal-awal travelling, kalau menginap gue pasti memilih di hotel atau guesthouse kalau bisa yang ada kolam renangnya, maklum HKB (Horang Kaya baru) masih gak tau cara buang duit di tempat yang benar.

Sebenarnya alasan menginap di hotel lebih karena faktor kenyamanan dan privacy. Yaelah kayak artis saja butuh privacy, demi privacy tsb gue rela ngurangin budget makan yang penting tidur nyenyak.

Kenapa gue butuh privacy karena gue punya kebiasaan buruk yaitu berantakan, sembarangan naruh barang, pelupa, tidak rapi, terlalu hiperaktif di ranjang alias suka nendang, kayang bahkan loncat kodok (nggak sampe segitunya kalee) dan suka gegoleran (rebahan) di lantai kalo kecapekan. Di tambah lagi kalau nginep di hotel bisa bawa dan makan makanan berbau tajam (pisau, beling dan kaca) ke kamar hahaha.

Gue nggak mau kebiasaan buruk gue mengganggu teman sekamar di hostel, makanya gue memilih tinggal di hotel atau hostel dengan kamar privat. Tapi itu dulu sekarang gue sudah berubah, ya iyalah bandara Soetta aja udah nambah terminal T3 dan Raisa udah pacaran sama Hamish Daud masa gue gitu-gitu aja gak ada perubahan sampe lebaran kuda.

Sekarang gue malah lebih senang tinggal di hostel tipe dorm karena harganya murah dan bisa dapat teman-teman baru. Gue berusaha jadi teman sekamar yang menyenangkan dengan menjaga kebersihan dan kerapihan hostel, tidak berisik dan bersikap seenaknya di kamar karena gue tinggal bersama dengan banyak orang jadi harus pandai-pandai membawa diri. Jangan sampai nama negara rusak karena ulah gue yang bikin sebel orang lain selama tinggal bersama berbagi ranjang di hostel.

Share dong teman-teman pengalaman sekamar bareng traveler dari negara lain di hostel.

Iklan

103 tanggapan untuk “Pengalaman Sekamar Dengan Traveler Korea Di Hostel

  1. Salam Kenal Mbak Ina, seruuu banget deh ceritanya…aku pernah satu dorm dengan pria-pria bule di Praha, mereka asik-asik semua maklum, mereka bilang sesama perantau dari luar eropa. ada yg dari Peru, Colombia, Meksiko gitu jadi kita satu kamar campur aduk, sementara yang perempuan aku doank, malamnya jika jadi city tour kota jalan kaki bareng hehe 😀

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s