Ramadan Di Kedah Bersama Farah

Salah satu ruko di kota Kulim

Sebelum berangkat traveling ke tiga negara yaitu Malaysia, Thailand dan Vietnam, gue menulis status di Facebook tentang rencana tersebut. Seorang travel blogger femes asal Malaysia yaitu Farah Nadiah mengirim pesan lewat Facebook untuk main ke rumahnya di kota Kulim yang berada di wilayah Kedah Malaysia yang lokasinya tidak jauh dari kota Georgetown Penang, salah satu destinasi yang akan gue kunjungi kembali setelah beberapa tahun lalu pernah ke sana.

Pesan moral satu : Tulis status di fesbuk sebelum traveling siapa tahu ada temen yang nawarin buat ngajak jalan atau tempat tinggal, tapi dibanding temen yang nawarin lebih banyak yang nagih oleh-oleh sih hehehe

Farah ini seorang travel blogger yang berprofesi sebagai lawyer, kebetulan dia ada kerjaan mengurus kasus klien di Georgetown, sehingga sekalian mudik beberapa hari ke rumah orang tua di kota Kulim Kedah. Tawaran Farah gue sambut dengan bahagia, kapan lagi bisa merasakan bulan Ramadan bersama orang lokal Malaysia yang kebetulan adalah keluarga Farah, ibarat pengen berbuka puasa dengan es kelapa muda trus ada yang nganter ke rumah (huahaha rejeki banget kan).

Gue harus mengubah rencana perjalanan karena tawaran dari Farah yang mendadak, akibatnya gue cancel satu malam jatah menginap 3 hari yang sudah gue booking sebelumnya di Kimberley House Goergetown. Untunglah gue tidak kena biaya karena membatalkan bookingan di saat last minute. Orang Indonesia selalu merasa untung ya apapun situasinya #menghiburdiri.

Pesan moral dua: Jangan saklek sama itenary, menjadi traveler harus fleksibel dan siap akan kemungkinan untuk mengubah rencana perjalanan karena banyak kejutan yang bakal datang.

Untuk menuju ke kota Kulim, Farah memberitahu bagaimana cara ke sana. Gue naik kereta api cepat Malaysia yang disebut ETS tujuan Butterworth Penang tetapi gue harus berhenti di stasiun Bukit Mertajam, satu stasiun sebelum stasiun Butterworth. Lalu gue menghubungi Farah dengan meminta tolong cewek berhijab warga Malaysia yang ada di stasiun untuk mengirim pesan kepada Farah, berhubung gue nggak beli SIM Card lokal Malaysia karena gue cuma mengandalkan wifi hostel ketika menginap dan malas ribet untuk urusan kartu telepon.

Sekitar 15 menit menunggu di stasiun, Farah dan adiknya datang menjemput gue lalu dia langsung mengajak jalan-jalan ke Sungai Sedim Tree Top Walk, yaitu hutan hujan tropis dengan pepohonan tinggi dan kanopi yang lebat yang dibangun jembatan panjang diantara pepohonannya. Sayang pas nyampe ke sana tutup hiks..hiks, padahal ke sana perjalanannya cukup jauh. Bulan puasa tempat wisata ini tidak ada pengunjung selain kami, siapa juga yang mau masuk ke hutan di bulan puasa ya hahaha.

Akhirnya Farah mengajak gue pulang ke rumah untuk istirahat. Rumah Farah di kota Kulim ini seperti rumah di  komplek perumahan umumnya di Indonesia yang berdekatan antar tetangga. Di komplek perumahan ini dipasang wifi dan setiap anggota keluarga di rumah biasanya memiliki mobil sendiri, umumnya mobil yang dipakai adalah tipe city car yang kecil. Oleh karena itu di Kulim dan kota-kota di Malaysia tidak pernah ditemukan angkot apalagi ojek. Jangan berharap tukang siomay atau bakso lewat depan komplek rumah ya, di sini nggak ada yang jualan pake gerobak keliling dari rumah ke rumah.

Gue berkenalan dengan ayah dan ibu Farah serta kedua adiknya. Mereka keluarga yang ramah dan humble sekali. Gue mengagumi Farah dan keluarganya karena rumah mereka dipenuhi oleh banyak sekali buku, sebagai orang yang hobi membaca, gue inginnya berlama-lama menginap di rumah Farah.

Kelar mandi gue istirahat di kamar sambil main socmed bermodal wifi gratis yang ada di rumah Farah. Sorenya Farah dan adiknya mengajak jalan-jalan keliling kota Kulim sambil mencari makanan berbuka di bazaar Ramadan. Sebelum berangkat, gue bilang ke Farah kalo mau pake baju tidur ke bazaar Ramadan karena kalo di Palembang bazaar Ramadan cuma sepelemparan kolor dari rumah, jadi nggak perlu dandan apalagi pake baju rapi buat jalan yha kan, lagian nggak ada yang kenal juga dengan gue di Kulim. Farah tertawa, bazaar Ramadan itu di bandar  (pusat kota) mana boleh cuma pake baju tidur katanya. Maaak cuma mau beli makanan berbuka doang musti pake baju yang rapi.

Kota Kulim di Kedah Malaysia ini diambil dari nama sebuah pohon yang banyak tumbuh di tempat ini yaitu pohon Kulim atau nama ilmiahnya Scorodocarpus borneensis. Sejarah kota Kulim dipercaya mulai ada pada pertengahan abad ke 18 yang awalnya didiami oleh 100 orang penduduk yang berasal dari Melayu Pattani. Kemudian pada abad ke 19 menjadi berkembang karena ditemukan tambang biji timah.

Pada awalnya terdapat 400 petambang China bekerja di Kulim lalu terus berkembang sampai ada 8 buah kantor perdagangan biji timah dengan jumlah mencapai 1500 pekerja di tahun 1854. Terjadi perang diantara para tauke tambang timah pada tahun 1888 sehingga keamanan penduduk terancam, akibatnya kerajaan Kedah terpaksa melantik orang Inggris yaitu B.E Mitchel sebagai kepala polisi Kulim pada tahun 1890. Kerajaan Kedah kemudian melemah sehingga melalui perjanjian Bangkok pada tahun 1909, Inggris menyatakan bahwa kerajaan Kedah berada di bawah pemerintahan Inggris. Pada tahun 1923 Sultan Abdul Hamid membuat perjanjian dengan Inggris bahwa Kedah secara resmi dibawah pemerintahan Inggris.

Menara Jam Merdeka sebagai tugu peringatan kemerdekaan Kedah

Kota Kulim tidak terlalu ramai, meskipun kota kecil namun areanya sangat luas dan masih banyak tanah yang belum didirikan bangunan sehingga jarak antara satu tempat ke tempat lain itu jauh. Keramaian bangunan dan penduduk persebarannya tidak merata sehingga di setiap rumah, masing-masing anggota keluarga memiliki mobil sendiri karena jarak antara satu bangunan ke bangunan lain itu tidak dekat, sulit untuk dijangkau dengan berjalan kaki. Tidak ada angkot, bajai ataupun tukang ojek.

Kota Kulim sore itu cuacanya sangat panas, serasa ada dua matahari diatas kepala dengan langit biru cerah dan awan bergumpal bak bulu angsa. Pusat kota Kullim tipikal bangunannya mirip dengan Penang dan Melaka yang amat kental dengan suasana Cina dan Melayu peranakan tempo dulu. Beberapa bangunan memiliki nilai sejarah. Gue seperti terlempar ke masa lalu dimana baba dan nyonya melakukan perniagaan di kota ini dengan membuka kedai dan melayani pembeli dari masa ke masa.

Waktu terasa berjalan amat lambat di kota Kulim, tidak ada ketergesaan dan jalan yang macet. Kendaraan baik mobil dan motor kebanyakan keluaran tahun lama dan tidak perlu bersaing di jalanan untuk memperebutkan space karena jalanan di sini luas dan mulus seperti pipi Raisa. Tidak perlu sering klakson atau menyalip mobil lain, nyetir juga bisa ngebut karena saingan sesama mobil sedikit, begitu juga manusianya nggak banyak yang keliaran di jalan. Kebanyakan sore hari masih istirahat ngadem di dalam rumah atau kantor karena jadwal berbuka puasa itu jam 7.30 malam.

Selesai jalan-jalan di pusat kota Kulim Kedah, saatnya berburu makanan untuk berbuka puasa. Tujuan pertama adalah pedagang martabak paling hits di Kulim, musti datang awal karena antrian akan panjang saking enaknya martabak ini. Rupanya martabak yang dimaksud adalah martabak mirip kayak martabak HAR kalau di Palembang atau martabak Mesir kalau di RM Padang Sederhana namun ada perbedaan pada isian dan cocolan. Isian martabak boleh pilih antara daging ayam atau daging sapi. Lalu potongan daging yang sudah dimasak dengan bumbu kari diletakkan ke dalam lembaran martabak yang pipih lalu dilipat dan digoreng sampai matang. Memakan martabak ini dicocol dengan saus encer berwarna merah yang rasanya asam dengan potongan bawang bombay. Farah membeli beberapa buah martabak dengan isian daging ayam dan daging sapi.

Selanjutnya perjalanan berlanjut ke bazaar Ramadan. Banyak sekali tenda berjualan makanan dan minuman dengan puluhan jenis. Harus mencari sesuatu yang unik, karena kalau dibeli semua nggak mungkin, kapasitas perut dan duit terbatas.

Gorengan ukuran besar yang dijual akan dipotong-potong untuk pembeli

Jenis kue yang dijual hampir sama dengan di Indonesia

Setelah berkeliling akhirnya gue memutuskan membeli es Le Ci Kang bukan es Leci ya. Isi es Le Ci Kang terdiri dari biji jali, kacang tanah, potongan kolang-kaling, cincau dan jelly dengan air gula dan es. Selain es Le Ci Kang, ada juga es asam boi, es berbagai sari buah dan yoghurt.

Es ukuran jumbo sekitar 2 liter isinya

Yang paling menarik dari es di kota Kulim yaitu ukuran gelasnya super jumbo, volumenya bisa sampai 2 liter. Orang Malaysia memang porsi makan dan minumnya lebih besar dibandingkan dengan ukuran rata-rata porsi makanan di Indonesia.

Selain membeli es, gue juga membeli Satar yaitu daging ikan giling yang dicampur kelapa parut dan dibumbui lalu dibungkus daun kelapa dan dibakar, rasanya gurih mirip sate lilit Bali. Selain itu gue juga membeli Laksa Kedah karena ingin tahu perbedaan rasanya dengan Laksa Penang yang pernah gue makan.

Di rumah, ibunya Farah sudah memasak banyak makanan sehingga makanan untuk berbuka puasa menjadi berlimpah. Gue optimis bisa menghabiskan makanan berbuka karena benar-benar lapar, secara gue merasa jam puasa gue lebih panjang satu jam dari tanah air karena berbukanya jam 7.30 malam, padahal sih sama saja durasinya karena waktu subuh di Malaysia itu jam 6 pagi.

Di meja makan gue ngobrol dengan keluarga Farah, rupanya keluarga ini memang senang traveling baik itu ayah dan ibunya sering bolak-balik ke luar negeri untuk melakukan perjalanan, apalagi ayahnya Farah sudah sejak muda melakukan perjalanan overland keliling Asia. Semakin kagumlah gue dengan Farah dan keluarganya. Mereka open minded dan sangat humble karena kaya akan pengalaman hidup dan juga kekayaan ilmu pengetahuan dilihat dari koleksi buku di rumah mereka yang memenuhi hampir seluruh isi rumah.

Gue banyak belajar dari Farah dan keluarganya, betapa pentingnya mendidik anak-anak dengan kesederhanaan dan ilmu pengetahuan. Suatu hari jika gue membangun rumah masa depan dengan kamu yang masih menjadi misteri namun ada di dalam doa #eaaaa (baper), gue ingin membangun manusia di dalamnya bukan hanya bentuk fisik rumahnya. Oke siiip, kalau setuju, temui ibu gue di rumah (hahahaha).

Malamnya gue mau sholat tarawih, pengen ngerasain sholat tarawih di Kulim. Lokasi masjid lumayan jauh dari rumah Farah, nggak kayak di komplek OPI di rumah gue di Palembang yang tinggal ngesot karena dekat. Di tempat Farah mau ke masjid musti naik mobil, jadilah gue ngerepotin Farah buat nganterin gue ke masjid. Farah meninggalkan gue dengan Hp-nya. Kalau gue sudah selesai sholat tinggal miss call ke nomornya, dia bakal jemput.

Sholat isya dan tarawih di Kulim dan juga Malaysia pada umumnya itu dimulai jam 9 malam. Setelah sholat isya terdapat ceramah dari pak ustad yang menggunakan bahasa melayu, ya iyalah namanya juga di Malaysia. Ceramah pak ustad sangat lucu menceritakan tentang kejadian sehari-hari warga Malaysia semacam sindiran perilaku yang disampaikan lewat cerita humor. Gue kira ceramahnya sebentar semacam kultum kalau di Indonesia, rupanya ceramahnya beneran ceramah sampai satu jam lebih. Sudah jam 10 malam lewat dan sholat tarawih belum juga dimulai. Duh mata sudah 5 watt pengen tidur bok.

Sholat tarawih dan witir akan berlangsung sebanyak 23 rakaat. Sebagai bani sholat tarawih dan witir sebanyak 11 rakaat, tentu saja gue cuma sanggup sholat tarawih 8 rakaat, sementara jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, segera gue sudahi sholat tarawih dan mengibarkan bendera putih tanda menyerah dengan miss call Farah. Rupanya tanpa miss call, Farah sudah menjemput ke masjid karena dia khawatir kenapa gue nggak minta pulang sudah jam 11 malam. Farah baru tahu dari adiknya bahwa masjid tempat gue sholat tarawih itu “macam tak nak beri jemaah pulang” (waktu sholatnya lama), seharusnya Farah tidak membawa gue ke masjid itu tapi ke masjid lain saja hahaha.

Besoknya gue sahur bareng dengan keluarga Farah sambil ngobrol tentang rencana gue ke Vietnam setelah selesai dari Penang. Sayang sekali, gue cuma bisa menghabiskan satu hari di rumah Farah padahal sangat menyenangkan bisa merasakan suasana bulan Ramadan di tengah keluarga yang berbeda bangsa dan budaya.

Pagi harinya gue berpamitan dengan ayah dan ibu Farah, berterima kasih karena kebaikan dan penerimaan mereka terhadap tamunya yaitu gue yang begitu hangat. Tidak cukup sampai di situ, Farah dan adiknya mengantar gue ke Georgetown Penang. Perjalanan sekitar satu jam, banyak hal yang bisa dilihat di pagi hari sepanjang perjalanan terutama pemandangan saat melewati jembatan Penang yang sangat indah dengan laut di bawahnya dan kotak-kotak tinggi gedung apartemen di Georgetown.

Farah Nadiah yang cantik, baik hati dan pintar

Farah mengajak mengunjungi Penang Hill atau Bukit Bendera lalu destinasi berlanjut ke Kek Lo Si Temple. Kedua tempat tersebut memang belum sempat gue kunjungi waktu pertama kali ke Penang. Setelah kedua tempat tersebut selesai dijelajahi, Farah mengantar gue ke Kimberly House. Lalu gue berpamitan ke Farah dan mengucapkan banyak terima kasih meskipun rasanya tak pernah cukup untuk membalasnya.

Gue berdoa di bulan Ramadan agar Farah dan keluarganya diberikan lapis-lapis kebaikan dan keberkahan oleh Tuhan.

Bersma Farah di Penang Hill

Meskipun gue jadi musafir sendirian, ternyata gue tidak pernah sendirian. Tuhan selalu ada bersama gue, salah satunya dengan mengirim orang-orang baik selama perjalanan.

Rupanya gue kangen memanggul ransel dan melakukan perjalanan di bulan Ramadan….

Sharing dong di kolom komen kalau teman-teman pernah menghabiskan bulan puasa diperjalanan atau di rumah orang lain.

Happy Traveling 🙂

Iklan

52 thoughts on “Ramadan Di Kedah Bersama Farah

  1. tarjiem 28 Mei 2017 / 3:43 pm

    Wah es 2 liter gimana ngabisinya tuh. Terakhir sebelum masuk bulan ramadhan ini makan es buah yang ukuran gelasnya standar. 1 hari kemudian, rasanya hidung ini mau pilek.
    Kayaknya penulis penggemar ustads salim afillah juga nih. Ada tulisan lapis-lapis kebaikan juga. hehehehe

    Disukai oleh 1 orang

  2. omnduut 28 Mei 2017 / 3:50 pm

    Macam diajakin ke masjid Agung Palembang padahal ada masjid Cheng Ho yang lebih deket dan mungkin hanya 8+3 rakaat hehe.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Pink Traveler 28 Mei 2017 / 4:05 pm

    Bukan penggemar ustad Salim A Fillah, itu dapet dr temen yg suka nulis gitu. Ngabisinya 2 kali diminum pas buka trus lanjut sahur, kalo orang Malaysia sekali duduk habis

    Disukai oleh 1 orang

  4. Deddy Huang 28 Mei 2017 / 4:08 pm

    Ini pengalaman yang bagus.. traveling skaligus ketemu temen lamo.. apo kabarnyo si Farah yo.

    Disukai oleh 1 orang

  5. Pink Traveler 28 Mei 2017 / 4:18 pm

    Baik ded, klo liat di IG nya dia liburan di pulau sama keluarganya

    Suka

  6. Fajrin Herris 28 Mei 2017 / 10:06 pm

    Eh itu benaran Mbak Es isinya 2 liter.

    Suka

  7. Pink Traveler 29 Mei 2017 / 5:04 am

    Kayak rumah di komplek perumahan Indonesia yg tipe 36 mas, aku nggak foto waktu itu krn nggak sempet plus merasa sungkan takut nggak sopan memfoto rumahnya di Kulim kalo flat Farah di KL aku foto sih

    Disukai oleh 1 orang

  8. inlycampbell 29 Mei 2017 / 12:08 pm

    ya ampunnnnnn makanannya bikin ngiler semua yaaa… hehe.. surganya jajan nii

    Disukai oleh 1 orang

  9. sarah 29 Mei 2017 / 3:42 pm

    Itu kue nya mirip di Indonesia juga ya? Tapi yang putih2 petak itu apa na? Tahu kah? Ngiler aku liat martabaknya. Jadi pengin nyoba puasa di Malaysia #nyobain ngabuburitnya #hahaha

    Disukai oleh 1 orang

  10. bangharlen 29 Mei 2017 / 4:35 pm

    Aihhh.. martabaknya itu bahh.. sabar2 masih 2 jam lagi.. 😁

    Disukai oleh 1 orang

  11. Johanes Anggoro 29 Mei 2017 / 4:37 pm

    Mirip2 di indonesia bazar kulinernya. Selalu merasakan kemeriahan ini ketika ramadan, meski ga ikut berpuasa hehe. 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  12. Pink Traveler 29 Mei 2017 / 9:13 pm

    Iya, sabar mas ntar aku main ke rumahmu atau kamu yg main ke rumahku huahahaha

    Suka

  13. Pink Traveler 29 Mei 2017 / 9:13 pm

    Iya yg dikangenin dari Malaysia itu makanannya porsi gede

    Disukai oleh 1 orang

  14. Pink Traveler 29 Mei 2017 / 9:16 pm

    Mirip banget kue2 nya, yang putih itu kayak talam dari tepung beras dan santan. Martabaknya asli enak banget. Iya musti kapan2 nyobain puasa di Malaysia, ngabuburitnya asyik ke bazaar Ramadan

    Suka

  15. Pink Traveler 29 Mei 2017 / 9:17 pm

    Iya, mirip makanannya pun mirip, cuma kalau di Malaysia porsi makanannya besar

    Suka

  16. bangharlen 29 Mei 2017 / 9:18 pm

    Gara2 mbak aku jadi ngidam martabak nih.. 😁

    Disukai oleh 1 orang

  17. Pink Traveler 29 Mei 2017 / 10:10 pm

    Iya orang Malaysia porsi makanannya besar, klo beli nasi bryani itu dimakan utk buka dan sahur saking banyaknya

    Disukai oleh 1 orang

  18. Frany Fatmaningrum 29 Mei 2017 / 10:12 pm

    Waktu ke KL, porsinya biasa aja. Mungkin ini berlaku di wilayah lain Malaysia ya.

    Disukai oleh 1 orang

  19. bangharlen 29 Mei 2017 / 10:53 pm

    Hhahaha pateennn 😁👍

    Suka

  20. muti mimut 31 Mei 2017 / 5:22 pm

    Jajanannya berwarna-warni menggoda sekali ya mba, apalagi kalo bukan bulan puasa slurrp

    Disukai oleh 1 orang

  21. Pink Traveler 31 Mei 2017 / 6:43 pm

    Ah iya bener jajanannya warna-warni, bersih dan enak

    Suka

  22. cK 4 Juni 2017 / 1:34 am

    Beruntung banget yaaaa ada teman yang nawarin nginep. Aku beberapa kali nginep di rumah orang saat traveling. Lumayan ngirit budget nginep. xD

    Suka

  23. Pink Traveler 4 Juni 2017 / 4:34 am

    Iya, nggak banyak yg nawarin nginep, banyakan nagih oleh2 kalo tahu kita traveling :)))

    Suka

  24. Inayah 4 Juni 2017 / 7:57 am

    Oohh ini tho Kedah, bos aku orang kedah…cuma sering dapat cerita sahaja

    Disukai oleh 1 orang

  25. Pink Traveler 4 Juni 2017 / 9:36 am

    Kedah itu luas Nay semacam propinsi, ini salah satu kotanya masih ada kota Taiping dan kota2 lainnya lagi tapi aku lupa namanya

    Suka

  26. nunoorange 8 Juni 2017 / 11:28 am

    Kalo aku pasti sudah berharap tukang siomay lewat. Terus pesen. Terus kalo ditanya “lhoh ga puasa?” aku bakal bilang.. “kan musafir kaaak. Laper..” Etapi pasar Ramadhannya itu kayak di sini ya? Martabaknya menggoda!

    Disukai oleh 1 orang

  27. Pink Traveler 8 Juni 2017 / 11:33 am

    Sama sih pasar Ramadannya kayak di tempat kita. Yang jualan bebas sih nggak pake tirai cuma kesadaran masyarakatnya cukup baik untuk tidak makan secara terbuka, kecuali bule ya bisa makan santai dimana saja dan nggak ada yang sweeping

    Suka

  28. Pink Traveler 20 Juni 2017 / 10:26 pm

    Hahaha, jom follow IG or fesbuknya Farah Nadiah

    Suka

  29. Mydaypack 20 Juni 2017 / 10:43 pm

    tanyain dia dulu ada yang mau kenalan hahaa..

    aku liat blog nya dia udah pernah ke Makassar juga ternyata

    Disukai oleh 1 orang

  30. Adie Riyanto 21 Juni 2017 / 7:19 am

    Hahaha, mau jujur ah. Kayaknya aku mau mengikuti jejakmu lho mbak. Jelajah beberapa negara Asean begini. Cuma sepertinya, mau nulis status di FB malah ‘takut’. Mungkin lingkaran pertemananmu di FB lebih ‘aman’ dibanding diriku hehehe 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  31. wisnutri 21 Juni 2017 / 7:25 am

    nyoba tipsnya besok ah pas jalan-jalan, sapa tau dapet tumpangan & temen buat jalan juga hehe
    kulnernya menggoda iman mbak kalau dibaca pas puasa-puasa gini XD

    Disukai oleh 1 orang

  32. vanisa 21 Juni 2017 / 8:38 am

    wah, seru ya. emang yang paling nyenengin dalam dunia blog adalah bertemu temasn yang kita kenal lewat blog 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  33. Pink Traveler 21 Juni 2017 / 9:46 am

    Hahaha di FB memang temen2 lebih banyak yang aku kenal secara personal dibanding twitter, tp FB justru nggak asik sejak gelombang hoax sering dishare

    Suka

  34. Pink Traveler 21 Juni 2017 / 9:48 am

    Udah kemana-mana dia, sering ke Indonesia, beberapa diantaranya diundang wonderful indonesia oleh kementerian pariwisata RI. Sangat terkenal di Malaysia sebagai travel blogger

    Suka

  35. Pink Traveler 21 Juni 2017 / 9:48 am

    Semoga berhasil ya, ati2 kebanyakan ditagih oleh2 nanti

    Suka

  36. Pink Traveler 21 Juni 2017 / 9:49 am

    Iya, enak bisa meet up dengan sesama blogger

    Suka

  37. rynari 21 Juni 2017 / 9:21 pm

    Selalu berjumpa hal menarik di perjalanan yg luwes jadwal. Terpikat dg pohon kulim yg melatar nama kota.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s