Beranda · Destinasi

Sin Tek Bio : Kelenteng Tua Di Pasar Baru Jakarta

Salah satu altar di Kelenteng Sin Tek Bio

Minggu pagi yang hangat sehangat nyala lilin-lilin di atas meja altar di dalam kelenteng tua ini. Mataku terkagum mengamati interior di dalam kelenteng, meskipun mungil tetapi meriah di dalamnya terutama hiasan lampion-lampion merah di langit-langit kelenteng dan nyala lilin-lilin di meja altar.

Selain itu, saya juga melihat seorang gadis muda berwajah oriental sedang melipat kertas berwarna kuning bergaris merah yang menjadi hiasan di dalam kelenteng sekaligus juga akan dijual ke jemaah atau pengunjung yang ingin membeli. Saya tidak bermaksud untuk menginterupsi kekhusyukan gadis muda itu dalam melipat kertas dengan mengajukan banyak pertanyaan yang sejujurnya berkelindan di dalam kepala.

Lampion di langit-langit kelenteng 

Sungguh rasa penasaran saya semakin membuncah manakala mengamati gelas-gelas kaca yang berisi lilin-lilin yang menyala terdapat nama-nama Tionghoa dan aksara Mandarin tertempel di setiap gelas. Saya pun bertanya dengan seorang ibu yang sedari tadi tampak sibuk dengan hapenya di samping gadis muda yang sedang melipat kertas perihal nama-nama pada setiap lilin.

Lilin-lilin tersebut mewakili individu dan keluarga yang ingin didoakan di dalam kelenteng. Satu buah gelas berisi lilin yang menyala yang diletakkan di atas altar dikenakan biaya 80 ribu per-bulan. Lilin-lilin yang menyala tersebut adalah simbol yang mewakili doa dan harapan untuk kesuksesan dan kemakmuran si empunya lilin.

Lilin-lilin di atas meja altar

Tentunya si empunya lilin ingin didoakan dalam waktu yang lama di dalam kelenteng. Silahkan ambil kalkulator dan hitung sendiri berapa biaya yang dikeluarkan jika gelas lilin bertuliskan namamu atau seluruh keluargamu berada di altar selama minimal sepuluh tahun. Saya membayangkan bahwa nama-nama orang Tionghoa di gelas lilin ini orang-orang yang tajir di penjuru Indonesia bahkan mungkin di luar negeri.  Mereka pasti minimal engkoh-engkoh pemilik toko elektronik atau setidaknya memiliki toko kelontong seperti Akiong tetangga saya di Palembang.

Sungguh saya mengagumi keindahan kelenteng yang berdiri sejak tahun 1698 ini, kelenteng tua yang pernah beberapa kali selamat dari kebakaran di Pasar Baru. Saya tidak menyangka di dalam sebuah gang sangat kecil di dalam himpitan Pasar Baru di tengah rimba Kota Jakarta berdiri kelenteng tua yang mungil dan cantik.

Seperti berjodoh untuk menemukan kelenteng Sin Tak Bio ini, saya tidak mencarinya namun bertemu di saat tidak terduga, saat saya berjalan-jalan di pagi hari di sekitar penginapan tempat saya tinggal sementara di Jakarta.

Berjalan-jalan di pagi hari di sekitar penginapan sudah menjadi kebiasaan saya untuk mengenal lingkungan sekitar termasuk masyarakatnya terutama untuk menemukan sarapan pagi otentik (urusan perut memang penting banget). Tak dinyana justru kebiasaan ini sering membawa kejutan tak terduga (namanya juga kejutan pasti tidak terduga kan ya).

Suasana Pasar Baru di pagi minggu

Saat menginap di Pasar Baru, saya masuk ke dalam gang sangat kecil yang mulutnya banyak penjual makanan, masuk saja ke dalam gang karena penasaran ada apa sih di dalam gang sempit ini. Wow ada kelenteng di ujung gang! seru saya dalam hati karena tidak menyangka ada kelenteng diantara jejeran boneka toko yang sedang tidak dipakai.

Kata hati saya memerintahkan untuk masuk ke dalam meskipun ragu. Setelah masuk sayapun meminta izin dahulu ke seorang ibu yang ada di dalam kuil untuk mengambil foto dan diperbolehkan. Izin saya minta demi menghormati kesucian kelenteng, siapa tahu di tempat ini ada aturan dilarang untuk mengambil foto ataupun masuk sembarangan ke tempat ibadah umat agama lain.

Saya puas mengambil foto karena saya satu-satunya pengunjung di Minggu pagi itu.

Keluar dari kelenteng, saya lalu melanjutkan perjalanan menyusuri Pasar Baru, di sini saya menemukan kedai bakmi Aboen (non halal) sementara di dekatnya juga ada kedai bakmi Gang Kelinci (halal) yang katanya terkenal di Jakarta. Pagi hari sudah banyak orang yang makan di kedai bakmie Aboen sementara kedai sebelahnya masih tutup.

Bakmi Aboen yang legendaris (non halal)

Kaki ini rupanya masih ingin berjalan sampai akhirnya saya menemukan sebuah plang nama jalan kecil (gang) yang mengingatkan saya dengan Lilis Suryani penyanyi lagu lawas yang terkenal dengan judul lagu yang persis sama dengan nama gang ini yaitu Gang kelinci.

Jalan Kelinci yang memiliki gang-gang kecil

Jalan-jalan pagi saya mengitari area sekitar Pasar Baru berhenti di depan gerobak mie ayam persis di depan gedung Pasar Baru yang menghadap jalan besar. Mie Ayam lezat seharga IDR 10 ribu menutup Minggu pagi saya kala itu dengan sempurna.

Mie ayam gerobak depan gedung Pasar Baru
Gerbang Pasar Baru

Jika kamu berkesempatan ke Jakarta dan sudah sering mengunjungi kota tua dan Monas, saya merekomendasikan satu destinasi yang sayang untuk dilewatkan yaitu Pasar Baru Jakarta. Masuklah ke dalam gang-gang kecil di sana, voila temukanlah kelenteng tua Sin Tek Bio di dalamnya!

 

Cara ke kelenteng Sin Tek Bio : Masuklah ke gerbang yang bertuliskan Pasar Baru, carilah gedung Pasar Baru, di samping kanannya ada gang sangat kecil dimana ada penjual soto mie dan buah-buahan di mulut gang, masuk saja ke dalam gang tersebut, tidak sampai 50 meter berjalan nanti akan ketemu kelenteng Sin Tek Bio di ujung gang dimana banyak boneka peraga busana berjejer di dekat pagar kelenteng.

 

Iklan

13 tanggapan untuk “Sin Tek Bio : Kelenteng Tua Di Pasar Baru Jakarta

  1. Dulu saya pernah nginep di daerah Pasar Baru tapi gak kemari, justru saya keliling di Glodok di Petak Sembilan. Lumayan seru keliling Pecinannya Jakarta, ada rumah tua Tionghoa hingga Kelenteng.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s