Destinasi · Hang Out · kuliner

5 Alasan Untuk Mengunjungi Pasar Papringan Temanggung

Mengunjungi pasar tradisional selalu menjadi kegiatan yang menarik buat saya, alasannya sederhana karena saya suka jajan makanan lokal dengan harga yang murah. Selain jajan, saya juga bisa cuci mata melihat sayur atau buah yang dijual di pasar yang sukses bikin ngiler. Kalau mau melihat budaya masyarakat dan hasil bumi suatu daerah, pasar tradisional juga bisa jadi pilihan untuk dikunjungi.

Saat mengikuti rangkaian famtrip dinas UMKM Provinsi Jawa Tengah, blogger dan jurnalis diajak untuk mengunjungi Pasar Papringan di desa Ngadiprono Temanggung. Itu pasar apaan ya hati saya bertanya? Apa istimewanya pasar Papringan dibandingkan pasar tradisional lainnya yang sering saya kunjungi di berbagai daerah di Indonesia?. Saya sangat penasaran karena acara mengunjungi pasar ini hukumnya wajib, bahkan rombongan kami harus check out setelah sholat shubuh dari penginapan di Dieng Wonsobo agar tidak datang terlambat ke pasar Papringan.

Di dalam bus yang membawa rombongan blogger dan jurnalis, Ibu Nane yang jadi guide menjelaskan kalau Pasar Papringan, dinamakan begitu karena lokasi pasar bertempat di hutan bambu dan mata uang yang digunakan adalah pring (pring artinya bambu). Dengan kata lain Pasar Papringan adalah pasar yang bertemakan bambu. Sebuah ide yang unik dengan memanfaatkan hutan bambu sebagai pasar bukan tempat syuting film horor Pengabdi Mantan.

Mata uang dengan pring (bambu)

Selain lokasinya yang berada di hutan bambu, waktu berkunjung ke pasar Papringan juga tidak bisa setiap hari, apalagi 3 kali sehari kek kamu kirim chat whatsapp udah makan apa belum sama gebetan. Pasar Papringan cuma ada dua kali dalam satu bulan yaitu di hari Minggu Pon dan Minggu Wage dalam penanggalan Jawa. Jadi kalau mau datang ke Pasar Papringan memang harus niat banget dari jauh-jauh hari biar bisa menikmati pasar yang istimewa ini.

Pink jatuh cinta dengan Pasar Papringan

Setelah sampai di Pasar Papringan dan menghabiskan waktu selama tiga jam di pasar ini, saya jatuh cinta dengan pasar ini. Sehingga saya langsung memasukkan Pasar Papringan sebagai pasar yang wajib dikunjungi minimal sekali seumur hidup. Saya pasti akan dengan senang hati merekomendasikan ke teman-teman saya terutama ke turis mancanegara untuk mengunjungi Pasar Papringan jika sedang travelling ke Jawa Tengah.

Alasannya saya tulis dibawah ini kenapa kamu wajib berkunjung ke Pasar Papringan ya gaes:

  1. Lokasi yang antimanistream dan instagramable

Untuk mencapai pasar Papringan kita akan melewati pedesaan dengan hutan dan sawah, sungguh menjadi perjalanan yang memanjakan mata sebelum sampai ke pasar. Kendaraan yang kita bawa akan diparkir di tempat parkir dekat rumah penduduk, selanjutnya untuk masuk ke dalam pasar kita harus berjalan kaki karena lokasinya ada di hutan di belakang rumah-rumah penduduk desa.

Siapa menyangka ini dulunya bekas tempat pembuangan sampah

Dulu lokasi Pasar Papringan adalah tempat pembuangan sampah yang kemudian dijadikan hutan bambu. Atas inisiatif beberapa anak muda, maka dibuatlah pasar tradisional dengan konsep yang unik yaitu bertemakan bambu. Kebayang kan serunya belanja dan nongkrong di pasar yang berada di dalam hutan bambu. Pasar ini difoto sangatlah instagramable diambil dari angle foto manapun, jadi kalau ke sini bawa kamera atau handphone dengan kamera yang punya resolusi bagus. Bagi yang hobi berfoto ala model, siapkan kostum yang stand out untuk menunjang penampilanmu atau bawa teman yang bisa fotografi biar kalau mau pamer di sosmed nggak nanggung karena sudah datang jauh-jauh ke Temanggung tapi fotonya blur semua.

  1. Banyak jajanan tradisional yang sudah langka

Bagi yang senang jajan dan icip-icip kuliner, maka Pasar Papringan adalah surganya kuliner tradisional. Saya menemukan banyak sekali makanan tradisional yang susah saya temukan sehari-hari. Setelah menukar uang rupiah menjadi pring (uang bambu), saya menjadi bingung sendiri mau beli makanan apa saking banyaknya pilihan.

Kue-kue tradisional yang bikin ngiler

Ada puluhan meja yang menjual makanan yang berbeda-beda. Jadi antara satu penjual dengan penjual lainnya tidak sama makanan yang dijual sehingga terjadi  persaingan yang sehat antar pedagang makanan. Pembeli benar-benar akan dibuat pusing memilih mau jajan makanan apa saking banyak varian makanan yang dijual. Terlalu banyak pilihan justru membuat hidup menjadi lebih rumit ya, eaaaa. Lebih enak jika hanya kamu yang mencintai saya tanpa ada pihak ketiga diantara kita#uhuk.

Bajingan (makanan yang mirip kolak ubi)

Saya memutuskan untuk keliling pasar dulu baru memilih makanan apa yang sangat susah saya temui atau belum pernah saya makan mengingat kapasitas yang terbatas untuk memasukkan semua makanan ke dalam perut meskipun perut saya sejenis karet yang bisa mengembang sebanyak apapun diisi hehehe.

Makanan yang saya pilih ada yang ringan dan berat bahkan berat banget sampe kekenyangan maksimal. Saya memilih kue-kue tradisional seperti apem kumbu, cenil dan rangin sebagai makanan pembuka lalu dilanjutkan lontong mangut, gule ayam dan bubur jangan (sayur disantan) sebagai makanan utama, kemudian dilanjutkan es dawet ireng sebagai pencuci mulut alias dessert. Banyak sekali ya saya jajan, dan itu belum termasuk icip-icip jajanan milik teman-teman blogger lainnya.

Lontong Mangut yng endess

Kenapa saya bisa makan sebanyak itu? Karena semua makanan yang dijual di Pasar Papringan rasanya endess surendes alias maknyuss banget. Penjual makanan di Pasar Papringan adalah penduduk desa di sekitar pasar. Dengan belanja di Pasar Papringan, kita telah ikut berkontribusi menyejahterakan masyarakat di desa sehingga keberadaan pasar ini akan berkelanjutan karena ikatan psikologi dan ekonomi masyarakat desa terhadap keberadaan pasar. Waduh dah kayak pemaparan anak ekonomi baru kelar wisuda pas diwawancara kerja hehehe.

Saya tidak menyesal musti dua kali mengantri untuk menukar uang rupiah sebesar Rp.40.000 di money changer sehingga uangnya menjadi 20 pring yang semuanya saya habiskan untuk jajan. Kapan lagi bisa jajan sepuasnya dengan harga terhitung murah. Pokoknya jajan dulu aja, nggak usah mikirin diet. Dietnya besok aja ya gaes #prinsip.

  1. Bersih dan ramah lingkungan

Saya adalah orang yang paling care dan aware soal kebersihan makanan. Jadi sebelum jajan di pasar Papringan, saya udah mikir kalau alat makannya dicuci bersih nggak, trus dimana nyucinya? Airnya diganti nggak ya? pokoknya udah parno aja, bawaan takut sakit perut abis jajan karena nggak higienis.

Rempong ya kalo saya jajan, ya iyalah karena saya takut disuntik kalau sampai ke dokter jadi jangan sampai sakit hanya karena perkara jajan. Itulah gunanya saya keliling dulu sebelum jajan, mau lihat-lihat dulu, mana penjual yang menjaga kebersihan makanannya.

Tempat mencuci piring dan petugas khusus yang bekerja membersihkan

Secara pengunjung pasar banyak banget, bisa sampai lima ribu pengunjung yang datang, kebayang kan gimana susahnya mereka menjaga kebersihan alat makannya. Rupanya Pasar Papringan benar-benar siap dan berkomitmen untuk menjaga kebersihan makanan, alat makan dan lingkungannya. Jadi di dalam pasar disediakan tempat untuk mencuci alat makan dan ada petugas khusus yang bertugas mencuci piring dan gelas dengan persediaan air yang banyak.

Selain itu, piranti makan juga terbuat dari material alami seperti batok kelapa, bambu dan daun pisang.  Jadi di pasar ini kita tidak akan menemukan bahan plastik untuk makan atau membungkus makanan yang kita beli untuk dibawa pulang.  Keranjang belanja juga terbuat dari bambu yang bisa pengunjung beli karena memang dijual sebagai wadah belanja sekaligus souvenir dari pasar.

Tempat sampah juga terbuat dari bambu dan tersebar di banyak tempat, sehingga pengunjung tidak susah untuk membuang sampah pada tempatnya. Hal ini untuk menjaga pasar agar selalu bersih dari sampah. Jadi Pasar Papringan memang pasar yang siap sekali untuk dikunjungi wisatawan, baik itu wisatawan dalam negeri ataupun luar negeri karena bersih dan ramah lingkungan.

  1. Menggunakan mata uang bambu

Salah satu keunikan dari Pasar Papringan adalah menggunakan mata uang bambu (pring). Pengunjung yang datang akan menukarkan uang rupiah di money changer menjadi uang pring dimana satu pring senilai Rp. 2000. Minimal uang yang ditukar sebesar Rp. 20.000, sehingga pengunjung akan mendapatkan uang senilai 10 pring.

Money changer

Jajanan di Pasar Papringan harganya mulai dari 1 pring sampai 6 pring per porsi. Supaya lebih hemat dan banyak icip jajanan, caranya bersama teman belilah makanan yang berbeda-beda, kemudian saling cicip saja biar banyak makanan yang bisa dicicip rasanya hehehe #prinsip.

Satu pring

saya bermaksud menyimpan 1 pring untuk kenang-kenangan telah mengunjungi pasar ini, tapi apa daya, saya kebelet pipis dan menggunakan toilet di pasar yang berbayar 1 pring, uh apes banget dah!

  1. Tempat hangout yang unik

Apa cuma makanan tradisional yang menarik di Pasar Papringan? Ngapain coba jauh-jauh sampai ke desa Ngadiprono Temanggung cuma buat jajan. Eits jangan salah sangka lho, Pasar Papringan bukan cuma menjual jajanan tradisional tapi ada tempat bermain permainan tradisional seperti Egrang, permainan berdiri dan berjalan di atas dua bambu yang butuh keseimbangan dan motorik yang bagus, ayunan dan jungkit-jungkitan yang sering ada di depan sekolah TK tapi terbuat dari bambu.

Anak-anak bermain dengan riang

Selain itu ada perpustakaan mini untuk anak-anak, atraksi kuda lumping anak-anak yang seru dan lucu juga berfoto bersama karakter pewayangan. Sebelum pulang pengunjung dapat membeli oleh-oleh yaitu sayuran, mainan anak dan juga kaos.

Oleh-oleh yang bisa dibeli di Pasar Papringan

Wajar kiranya Pasar Papringan bisa dikunjungi sampai ribuan orang, entah itu yang jomblo, sedang pacaran, sedang patah hati, sedang selingkuh atau keluarga dengan membawa anak-anak. Pasar Papringan bisa banget jadi tempat hangout yang beda dari biasanya.

Kalau sedang bukan hari pasar, hutan bambu tempat pasar papringan digelar bisa menjadi lokasi foto prewedding atau tempat menikah lho. Saya sudah melihatnya di IG @pasarpapringan yang memakai lokasi pasar untuk acara pernikahan. Tempat menikah yang unik dan berbeda karena berada di hutan bambu dengan makanan tradisional yang disuguhkan kepada tamu undangan. Duh jadi pengen cepet-cepet dilamar jadinya :0

5 hal yang saya tulis diatas menjadi alasan saya untuk kembali lagi ke Pasar Papringan jika ada waktu dan kesempatan. Apalagi jika perginya sama kamu, iya kamu yang sedang tersenyum manis di sana 🙂

Jadi kapan nih kamu berkunjung ke Pasar Papringan?

Iklan

25 tanggapan untuk “5 Alasan Untuk Mengunjungi Pasar Papringan Temanggung

  1. Unik benar pasar Papringan ini, di hutan bambu dan uangnya menggunakan potongan bambu. Ide kreatif merubah tempat pembuangan sampah jadi lokasi bernilai jual. Hebatlah pariwisata Jawa Tengah 🙂

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s