Beranda · Destinasi · kuliner

Menikmati Perjalanan Rasa

Tradisi munggah di Kampung Arab Almunawar Palembang

Apa yang menjadi alasan teman-teman mengunjungi suatu tempat?

Jawabannya pasti banyak sekali, ada yang tertarik karena keindahan alam, kekayaan budaya dan sejarah atau mengenang nostalgia bersama mantan yang sekarang telah menjadi pasangan atau malah bersanding dengan yang lain di pelaminan hehehe.

Kalau saya alasannya karena suka jajan dan makan-makan, maka kuliner adalah magnet terbesar untuk mengunjungi suatu tempat. Hayo tunjuk tangan siapa yang sama kayak saya?

Saya termasuk impulsif soal jajan ini, kalau lagi kepengen makan sesuatu, saya rela melakukan perjalanan yang cukup jauh, mulai dari ke luar kota bahkan sampai ke luar negeri. Menikmati kuliner dengan cita rasa yang lezat dari tempat asalnya mendatangkan kepuasan tersendiri bagi saya. Rasanya bahagia sekali bisa makan nasi gudeg di Yogyakarta atau makan lumpia di kota Semarang.

“Makanan bisa membuatmu jatuh cinta”

Dari lidah turun ke hati. Sepotong kalimat yang bermakna sangat dalam yang menunjukkan kekuatan makanan mampu menaklukkan hati seseorang. Nah, kalau kamu punya calon mertua yang galaknya minta ampun, coba bawakan dia makanan kesukaanya, dijamin bakal senyum kalau melihat kamu datang (kalau hasilnya berbeda, silahkan coba lagi kakak, jangan menyerah). Sementara untuk traveler macam saya, makanan mampu menggerakkan jari saya untuk memesan tiket pesawat, membuat itenary, packing dan melangkahkan kaki keluar dari rumah untuk pergi berburu kuliner lezat di sudut-sudut nusantara.

Karena hobi saya wisata kuliner, maka saya membuat daftar beberapa daerah yang sudah dan ingin sekali saya kunjungi demi menikmati kuliner lezat dari daerah-daerah tersebut. Selain lezat, kuliner di Indonesia juga menyimpan ceritanya masing-masing, saya selalu tertarik membaca atau mendengarkan cerita yang berkaitan dengan makanan. Berikut tempat-tempat di Indonesia yang sudah pernah saya datangi dan ingin sekali saya datangi karena kepincut kelezatan kulinernya.

Aceh

Salah satu tempat yang masuk daftar teratas untuk saya kunjungi demi menikmati kelezatan mie Aceh dan segelas kopi sanger yang nikmat. Saya sudah dua kali berencana ke negeri ‘Serambi Mekkah’ ini namun belum beruntung. Terakhir saya terpaksa menghanguskan tiket ke Aceh yang sudah dibeli karena memilih menghadiri undangan teman saya di Malaysia.

Saya penyuka makanan berbahan dasar mie. Mie Aceh adalah makanan favorit saya. Sudah sering saya mencicipi Mie Aceh yang dijual di beberapa tempat di luar Aceh seperti di Medan, Jakarta, Yogyakarta dan Palembang, namun belum pernah mencicipi di daerah asalnya. Oleh karena itu saya sangat penasaran seperti apa rasa Mie Aceh yang asli dari tanah rencong tersebut.

Mie Aceh dan Kopi Sanger yang dibeli di rumah makan di Jakarta

Di dalam sepiring Mie Aceh, kita bisa mencicipi kekayaan rasa, hasil dari perpaduan berbagai budaya. Banda Aceh merupakan kota pelabuhan penting dimasanya, pintu masuk pedagang dari beberapa negara seperti pedagang Tiongkok, India dan Arab. Mie merupakan kuliner yang berasal dari Tiongkok, sementara bumbu kari yang kental dan gurih berasal dari India, penggunaan daging kambing atau sapi berasal dari tradisi kuliner islam dan penggunaan seafood seperti kepiting, cumi dan udang merupakan hasil laut dari daerah pesisir Aceh.

Tak lengkap rasanya jika ke Aceh tanpa mencoba kopi sanger, yaitu kopi yang dibuat dari campuran bubuk kopi, gula dan susu dengan komposisi yang pas, menjadikan segelas kopi sanger terasa nikmat terutama jika diminum bersama sahabat.

Bukittinggi

Saya pernah berkunjung ke beberapa tempat di propinsi Sumatera Barat. Menurut saya pribadi, tidak ada makanan yang tidak lezat di daerah ini. Dari makanan yang dijual pedagang asongan di pinggir jalan sampai dengan makanan yang dijual di restoran, semuanya endesss (s nya sampai tiga kali saking enaknya).

Diantara beberapa tempat di Sumatera Barat, Bukittinggi adalah kota favorit saya. Saya menyukai kota Bukittinggi yang disebut sebagai Paris Van Sumatera pada masa kolonial Belanda ini. Selain karena kulinernya yang lezat, Bukittinggi juga memiliki pemandangan alam yang indah dengan suhu udara yang sejuk dan ditambah lagi kental nilai sejarah.

Bukittinggi layak dinobatkan sebagai destinasi kuliner andalan di Indonesia.

Saya ke Bukittinggi tahun 2012, saat itu saya belum menjadi blogger sehingga tidak banyak foto yang saya ambil, tetapi ingatan saya tentang kelezatan kuliner Bukittinggi masih terekam dengan jelas sampai sekarang. Saat itu saya mencicipi gulai itiak lado mudo yang sangat lezat. Lokasi tempat saya makan ada di sebuah warung makan yang terletak di pinggir sungai di Ngarai Sianok.

Gulai Itiak Lado Mudo (credit pic: kulinerbangsakoe)

Untuk sampai ke tempat makan gulai itiak lado mudo, saya harus berjalan kaki menuruni jalanan yang cukup curam, tapi perjuangannya sepadan dengan cita rasa lezat dari daging itik yang berlumur cabe hijau berminyak yang disajikan bersama gulai cubadak (nangka muda), daun singkong rebus dan ikan bilih goreng,  membuat sepiring nasi saya ludes tak bersisa.

Onde mande, menulis kembali kenangan ini membuat air liur saya menetes. Andai gulai itiak lado mudo ini banyak dijual di rumah makan Minang terdekat, sudah berlari saya ke sana.

Bukittinggi tidak hanya memiliki gulai itiak lado mudo saja, namun masih ada kuliner lain yang menggoda yaitu nasi kapau. Saya termasuk salah satu orang yang menyukai nasi kapau terutama gulai tambuksu yang terbuat dari usus sapi yang diisi campuran tahu dan telur. Saya mencicipi nasi kapau pertama kali di Palembang di salah satu rumah makan nasi kapau di daerah Bukit Besar.

Tentu saja mencicipi nasi kapau di tempat aslinya rasanya akan berbeda. Penjual nasi kapau banyak bertaburan di Bukittinggi terutama di area Pasar Atas yang tak jauh dari Jam Gadang. Kedai-kedai nasi kapau berjejer dengan barisan baskom gulai dan lauk-pauk yang menggoda mata. Sayang sekali saat itu saya sudah kenyang makan nasi dengan gulai itiak lado mudo sehingga tak sempat mencicipi kelezatan nasi kapau di Bukittinggi.

Ini menjadi alasan bagi saya untuk datang kembali mengunjungi Bukittinggi suatu hari, demi mencicipi kelezatan nasi kapau dan kuliner lain yang tak sempat saya cicipi di sini.

Palembang

Saya wajib memasukkan kota Palembang sebagai salah satu kota untuk referensi kuliner lezat di Indonesia. Sebagai warga Palembang, saya bangga dengan kekayaan kuliner kota ini. meski Palembang dikenal sebagai kota pempek, namun makanan lezat yang ditawarkan tidak hanya pempek. Kuliner Palembang kaya akan variasi macam dan cita rasanya dikarenakan akulturasi beragam budaya yaitu Tiongkok, India dan Arab sehingga membentuk identitas kuliner yang khas.

Landmark tulisan kota Palembang di pinggir Sungai Musi

Banyak teman yang bertanya kepada saya tentang alasan mengapa mereka harus berkunjung ke Palembang setidaknya sekali seumur hidup. Dengan mantap saya jawab datanglah ke Palembang demi mencicipi kulinernya. Apa saja kuliner Palembang yang wajib dicoba? Banyak sekali kakak.

Menu sarapan pagi di Palembang yaitu burgo, laksan, lakso dan celimpungan (diputar searah jarum jam dari bawah)

Mulai dari sarapan pagi, kita dapat mencoba nasi minyak, burgo, lakso, celimpungan dan laksan. Kemudian untuk cemilan sebelum makan siang atau di sore hari, kita bisa makan pempek dan belasan jenis makanan turunannya seperti tekwan, model dan lenggang. Masih ditambah lagi dengan mie celor dan martabak HAR.

Beragam jenis pempek yang lezat

Untuk makanan berat, kita bisa makan pindang yang banyak jenisnya mulai dari pindang ikan, pindang tulang, pindang udang dan pindang lainnya. Setiap daerah di Sumatera Selatan memiliki versi pindang yang berbeda-beda. Pindang disajikan bersama nasi putih, lalapan dan sambal mangga. Mertua anda lewat, nggak bakal kelihatan saking enaknya makan pindang. Alhamdulillah saya belum punya mertua ya hehehe.

Pindang Ikan Baung

Di kampung Arab Almunawar Palembang ada tradisi makan munggah, makan beramai-ramai di hari istimewa seperti haul hari-hari besar islam, penghormatan terhadap tokoh tertentu atau perayaan pernikahan dan lain-lain. Saat haul tersebut dirayakan, maka akan disajikan menu makanan yang terdiri dari nasi kebuli, sayur dan lauk-pauk seperti malbi daging, ayam goreng saus kecap atau gulai ayam dengan pelengkap sambel nanas.

Jika ingin makan munggah silahkan datang ke kampung Almunawar dan pesan ke penduduk lokal untuk dibuatkan menu makanan munggah ini.

Es kacang merah yang menggoyang lidah

Sebagai penutup makan, biasanya orang Palembang akan memakan dessert es kacang merah atau srikayo. Tenang saja, makanan dan jajanan enak di Palembang mudah untuk ditemukan dijual di kota ini.

Bandung

Bandung nggak pernah ada matinya soal inovasi kuliner. Selalu saja ada kuliner baru yang menjadi tren jajanan yang berasal dari kota ini. Setiap tahun saya selalu pergi ke Bandung karena urusan pekerjaan, disela tugas kerja, saya akan menyempatkan untuk wisata kuliner.

Favorit saya kalau ke Bandung itu makan masakan khas Sunda, terutama bakwan jagung, pepes peda, sambal pete dan lalapannya yang melimpah. Biasanya di rumah makan Sunda, lalapan dan berbagai jenis sambal boleh diambil sesukanya, makannya di saung dengan piring beralas daun pisang, dilayani oleh pramusaji teteh yang geulis dan akang yang kasep dengan senyum ramah. Suara alunan musik khas Sunda menemani tamu makan membuat atmosfir budaya Sunda terasa kental.

Beragam lauk-pauk di rumah makan Sunda
Lalapan dan sambal penarik nafsu makan pada menu masakan Sunda

Musik khas di rumah makan sunda ini membuat saya selalu teringat akan bumi Parahyangan ketika saya tidak sengaja mendengarnya di Kuala Lumpur saat berada di KL Sentral. Membuat saya mencari asal suara tersebut, yang  ternyata suara musik iklan salah satu rumah makan Sunda yang cabangnya banyak dimana-mana di Indonesia. Rupanya rumah makan Sunda sudah melebarkan sayapnya sampai ke luar negeri. Sungguh saya bangga.

Yogyakarta

Yogya adalah rumah kedua saya setelah Palembang karena sekarang saya tinggal di kota ini. Kota yang dikenal sebagai kota gudeg ini menawarkan petualangan rasa yang tidak ada habisnya. Meskipun sudah tinggal di Yogya selama hampir satu tahun, masih banyak sekali tempat makan yang belum sempat saya cicipi kulinernya. Ini bisa jadi alasan saya untuk tinggal lebih lama di Yogya ya kan (maunya sih begitu).

Candi Prambanan di Yogya

Saat baru datang ke Yogya, saya kaget mengetahui jika soto menjadi menu sarapan yang lazim ditemukan dimana-mana. Awalnya aneh, tetapi setelah mencoba sarapan soto, saya justru menjadi ketagihan karena soto di Yogya memiliki banyak lauk pelengkap tambahan seperti sate telur puyuh, sate usus, sate ayam dan tempe garit.

Soto dan pelengkapnya untuk sarapan pagi

Selain soto, di Yogya juga banyak dijual makanan manis untuk sarapan seperti jenang (bubur manis) dan jajan pasar. Pergilah ke pasar tradisional maka berbagai jenis jajan pasar dan juga jenang banyak dijual dengan beragam rasa. Harga jajanan di pasar tradisional juga sangat murah, dengan uang 4 ribu saja kita sudah bisa membeli seporsi jenang atau jajan pasar.

Jajan pasar tradisional yang mengingatkan dengan masa kecil saya
Mbah penjual lupis yang lupisnya sudah melegenda di Yogya
Jenang (bubur manis) disajikan di dalam pincuk daun pisang dijual di pasar tradisional

Kalau ke Yogya tak lengkap rasanya jika tidak mencoba signature dish kota ini yaitu nasi gudeg. Perpaduan antara nasi putih, manisnya gudeg, pedasnya sambal krecek dan siraman areh gurih dari santan kelapa di atas nasi membuat lidah menari di dalam mulut. Banyak variasi nasi gudeg di Yogya dari yang rasanya manis sampai pedas, dari yang dijual di pagi hari sampai yang dijual menjelang tengah malam.

Nasi gudeg versi pedas dan basah di Gejayan Yogya

Di Yogya, kamu tidak akan pernah merasa kelaparan karena begitu banyak penjual makanan, mulai dari angkringan dengan menu nasi kucing seharga 2 ribuan sampai beragam restoran dengan harga ramah di kantong .

Paling enak menikmati kuliner malam di Yogya, suasana sangat meriah dengan banyak lesehan berjejer di pinggir jalan dengan beragam menu makanan seperti bakmi Jawa, tengkleng dan penyetan. Pengamen jalanan akan menghiburmu dengan lagu-lagu yang dinyanyikan dengan musik yang merdu

Sekali datang ke Yogya, kamu akan jatuh cinta dan rindu untuk bernostalgia….

Pontianak

Pertama kali tahu kuliner Pontianak itu dari kicauan Amrazing di twitter tentang lezatnya rasa choi pan. Choi artinya sayur dan pan artinya kue, jadi ini adalah kue berisi sayuran. Makanan ini tampilannya mirip dimsum yang isinya daun kucai atau bengkuang yang dimakan dengan sambal bawang putih.

Penasaran bagaimana rasanya choi pan yang asing tersebut. Suatu hari saya pergi ke Jakarta, kemudian saya mengunjungi Pasar Baru, di sana saya melihat ada penjual makanan yang menjual choi pan. Akhirnya saya bisa mencicipi choi pan atau kalau di Pontianak lebih dikenal dengan nama chai kwe.

Choi Pan, makanan dari Pontianak (credit pic: topkulinerpontianak)

Saya suka makan choi pan karena rasanya yang unik, perpaduan gurih dari bawang putih dengan sedikit rasa manis dari bengkuang dengan tekstur kenyal dari kulitnya yang terbuat dari tepung beras. Hal ini membuat saya ingin mengunjungi kota Pontianak suatu hari nanti untuk mencicipi rasa choi pan yang asli dari tempatnya berasal.

Masih banyak kuliner lezat dari Pontianak yang sebagian besar dipengaruhi budaya Tiongkok. Tak sabar rasanya ingin menginjakkan kaki ke Pulau Borneo melalui pintu kota Pontianak ini.

Lombok

Saya bercita-cita suatu hari nanti, jika pergi honeymoon maka destinasi yang ada dalam list teratas adalah Lombok. Bukan tanpa alasan saya memilih Lombok, selain karena ingin menikmati pantai yang indah, saya juga ingin menikmati wisata kuliner di pulau ini. Honeymoon akan terasa istimewa jika kita dapat memanjakan beberapa indera sekaligus yaitu mata dengan pemandangan indah dan juga lidah dengan makanan lezat. Menikah saja belum tapi sudah mikir honeymoon kemana, duh sungguh saya ini future wife hehehe.

Ayam Taliwang dan Plecing Kangkung ( credit pic: Sigit Setyo/radarlombok )

Saya suka sekali makan Ayam Taliwang dan Plecing Kangkung. Ayam bakar gurih dan pedas dipadu dengan plecing kangkung segar. Karena saya belum pernah ke Lombok maka saya tidak tahu rasa Ayam Taliwang dan plecing kangkung yang asli dari asalnya. Menurut beberapa orang yang pernah makan di Lombok, plecing kangkung di sana rasa kangkungnya beda dari kangkung biasa yang sering kita makan di luar Lombok.

Duh kapan yah bisa traveling ke Lombok? Langsung cek tiket promo di apps Skyscanner nih, barangkali ada tiket murah ke Lombok.

Makassar

Saya selalu penasaran dengan kuliner dari Makassar, salah satu daerah di timur Indonesia ini. oleh karena itu saya mencoba untuk mencicipi kuliner Makassar yang relatif  cukup banyak yang menjual seperti Coto Makasar, Es Pisang Ijo dan Barongko.

Coto Makassar ini mirip soto meskipun rasanya sedikit berbeda karena ada campuran kacang tanah dan dimakannya bersama buras (sejenis ketupat yang terbuat dari ketan). Sementara Es Pisang Ijo adalah jajanan manis dan segar  yang relatif mudah ditemukan karena sudah banyak dijual dimana-mana. Barongko adalah dessert yang terbuat dari campuran santan, pisang dan telur yang dibungkus daun pisang kemudian dikukus.

Coto Makassar yang gurih dimakan dengan Buras
Es Pisang Ijo yang manis dan segar

Setelah mencicipinya, saya katakan bahwa saya sangat menikmati kuliner dari Makassar dan berharap suatu hari nanti bisa mengunjungi Makassar demi mencicipi kulinernya secara langsung.

Melalui wisata kuliner, saya menjelajahi nusantara dan jatuh cinta dengan Indonesia. Saya menyadari betapa kaya negeri ini hanya dari kulinernya saja, ini belum termasuk keindahan alam, keragaman suku bangsa dan sumber daya buminya.

Tak akan pernah cukup waktu untuk mencicipi semua kuliner Indonesia dari Aceh sampai Papua dan menggali cerita dibaliknya.

Apa makanan Indonesia favoritmu yang membuat kamu rela menempuh perjalanan jauh? Yuk share di kolom komen :)))

Iklan

21 tanggapan untuk “Menikmati Perjalanan Rasa

  1. Kopi Sanger, Es Kacang Merah, Chai Kwe aka Choi Pan, wah lama banget tak menikmatinya. Wajib syukur rasanya, jika pernah mencoba langsung makanan lezat tersebut di daerah asalnya. 😀

    Disukai oleh 1 orang

  2. Iya harus datang ke tempat asalnya biar otentik, kadang rasanya nggak sama karena ada penyesuaian dengan bumbu yang tersedia dan selera masyarakatnya. Pernah beli mie Aceh di Jogja rasanya kurang nendang bumbunya

    Suka

  3. Kalo sekedar makanan sih gak selalu jadi alasan utama untuk pergi. Tapi saya rela deh ngejar Al. Baik nya tanah Arab jadi selalu ada alasan untuk umroh. Kadung jatuh cinta setengah mati kalo ini.

    Kalo saya alasan utama pasti keluarga atau sodara. Entah nikah, lahiran, dan kematian. Mau gak mau deh tuh pasti pergi. Hehe.

    Suka

  4. Aku juga pingin ke Lombok mbaaak :’) makasih banget referensinya hehe. Tulisannya lengkap betul, dari pulau ke pulau sudah dirangkum kulinernya. Semoga ntar listnya kuliner yang udah dicicipi di tempat asal nambah teruss dan terus. Aamiin

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s