[Review] Laper dan Baper Nonton Film Aruna dan Lidahnya

Foto: koleksi pribadi

Susah juga ternyata
Punya pacar bermata liar
Seringkali memalukan
Dibuatnya aku tiada berharga

Mau marah percuma
Paling hanya menelan ludah
Daripada naik darah
Kuputuskan saja tali cintanya

Sepenggal lagu berjudul “Aku ini punya siapa” yang dinyanyikan oleh January Christy dengan musik jazz dan lirik manja menggoda menjadi pembuka film yang manis saat Aruna yang diperankan oleh Dian Sastro sedang memasak sop buntut di dapur rumahnya kemudian makan sambil mempertanyakan benarkah rasa makanan juga ditentukan bersama siapa kita menyantapnya?

Di film ini Nicholas Saputra berperan sebagai Bono, sahabat Aruna yang benar-benar sahabat ya bukan sahabat rasa pacar atau diem-diem suka sama Aruna meski cuma dianggap sahabat kayak kisah cintamu sama si doi. Bono ini pekerjaannya sebagai chef di restoran, Nic diem aja sudah bikin gue melting apalagi doi masak di dapur cynn langsung ambyar hati ini ingin memiliki dan pengen bilang nikahi gue Fahri eh Nic huahahaha.

Setiap ada menu baru, Bono selalu minta Aruna untuk mencicipinya meskipun tanggapan yang diterima Bono nggak sesuai dengan yang dia harapkan karena Bono menganggap Aruna sedang stres kerja sehingga mempengaruhi lidahnya jadi nggak beres. Kayaknya bukan lidahnya Aruna yang nggak beres tapi hatinya.

Aruna sakit hati karena bukan dia yang dipilih bosnya tugas kerja ke India, jadilah Bono menghiburnya dengan membuatkan masakan dengan cita rasa India sekaligus mengajukan ide untuk  wisata kuliner ke berbagai tempat untuk mencari inspirasi resep baru untuk restorannya biar pelanggan nggak bosan. Nah kalo kamu bosan sama pacar bukan pacarnya ya yang diganti tapi cari inspirasi tempat ngedate yang baru, jangan cuma di kantin kampus atau di teras kosan, bilanglah sama pacar sekali-kali wisata kuliner ke berbagai tempat, ahseek….

Keinginan Aruna untuk wisata kuliner bersama Bono akhirnya terwujud karena Aruna ditugaskan bosnya untuk investigasi kasus flu burung di empat tempat yaitu Surabaya, Madura, Pontianak dan Singkawang. Ini yang disebut kerja sambil jalan-jalan atau jalan-jalan sambil kerja, pokoknya disempetinlah, yang pernah dapet jatah dinas luar pasti relate ya dengan beginian, ngaku nggak loe hehehe….

Kemudian datanglah Nad yang diperankan dengan apik oleh Hannah AL Rasyid, Nad ini cewek cantik pake banget plus sikapnya juga ramah, jadi tipikal cewek yang bisa membuat cewek lain merasa insekyur jika didekatnya karena cowok-cowok dipastikan mudah tertarik ke Nad dan dia sadar betul pesonanya. Nad ini sering pacaran sama suami orang dengan alasan lebih menantang daripada pacaran sama cowok single. Gimana cewek-cewek nggak sebel sama si Nad, kalau dia tinggal di Indonesia, mungkin udah viral disawerin duit kayak bu dendi nyawerin selingkuhan lakinya.

Nad sengaja kembali dari luar negeri ke Indonesia untuk ikut wisata kuliner bersama Bono dan Aruna karena Nad seorang editor kolom makanan di sebuah majalah, sekaligus mencari inspirasi untuk buku keduanya yang bertema kuliner. Aruna, Bono dan Nad adalah sahabat dekat yang sama-sama suka wisata kuliner dan memiliki tujuan sendiri-sendiri dengan ikut wisata kuliner bareng ini.

Selain karena urusan pekerjaan kantor untuk investigasi flu burung, Aruna juga memiliki tujuan lain yaitu mencari resep nasi goreng yang sering dimasak oleh pembantunya Mbok Sawal karena setiap kali Aruna masak nasi goreng rasanya nggak sama sehingga dia penasaran.

Acara wisata kuliner ini bertambah seru dengan hadirnya Farish yang diperankan oleh Oka Antara, jadi si Farish ini mantan rekan kerja Aruna sebelum Farish pindah ke kantor baru yang bosnya cantik jelita yang diperankan oleh Ayu Azhari. Farish ini tipe cowok sejuta umat yang nggak pekaan, bikin sebel-sebel sayang gitu. Dese nggak sadar kalau Aruna tuh suka sejak dua tahun lalu waktu masih sekantor.

Aruna diam-diam suka sama Farish tapi hanya dipendam dalam hati saja. Sementara Bono diam-diam suka dengan Nad, ya Allah sudah 2018 masih saja banyak orang yang nggak berani jujur untuk bilang tentang perasaannya hingga akhirnya merana sendiri. Kasihan ya, mirip gue sih yang sering suka diam-diam juga hahaha sekalian curcol nih, tumpahkan saja bebas kok, namanya juga blog sendiri….

Film Aruna dan Lidahnya diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Laksmi Pamuntjak dan disutradarai oleh Edwin yang pernah menyutradarai film Posesif. Saya belum membaca novelnya sehingga tidak memiliki ekspektasi dan gambaran sendiri tentang filmnya sehingga saat menonton saya lepas dari bayang-bayang imajinasi novel.

Alasan saya simpel mengapa mau nonton film Aruna dan Lidahnya karena film ini bertema jalan-jalan dan wisata kuliner. Saya sangat suka berwisata kuliner, demi makanan yang otentik dan lezat, saya rela melakukan perjalanan jauh di dalam negeri atau luar negeri, seniat itu kalau soal kuliner. Apalagi empat tempat yang menjadi setting film ini belum pernah saya datangi dan nikmati kulinernya yang membuat laper setengah mampus karena kamera menyorot secara zoom in dengan angel yang mampu membuat penonton meneteskan air liur.

Ini film dewasa yang tidak ada sama sekali scene dewasa, ada sih adegan ranjang tapi yang dilakukan adalah makan bertiga di kamar hotel, iya sama kayak kita kalau lagi jalan-jalan, beli banyak jajanan lalu dimakan di ranjang hotel hahaha. Nah letak dewasanya ada pada dialog-dialog empat pemain film ini dengan topik berat seperti sulitnya menyatukan antara science dan agama, vaksin, perselingkuhan dan percintaan yang diperbincangkan sembari menyantap makanan.

Ada banyak makanan yang diperkenalkan di film Aruna dan Lidahnya, dimulai dari Surabaya yaitu rawon, makanan berkuah hitam yang gurih serupa soto dengan potongan daging dan tauge, kemudian rujak soto, rujak dan kuah soto dicampur jadi satu lalu soto koya, soto dengan taburan bubuk koya yang gurih. Gimana nggak laper ya 🙂

Sementara saat Aruna berkunjung ke Madura kuliner yang dikenalkan adalah lorjuk, sejenis kerang yang mirip kerang bambu tapi berukuran kecil. Saya senang akhirnya ada buku atau film yang mengangkat tentang Madura, setidaknya daerah di Jawa Timur ini ada yang mengenalkan kekayaan kulinernya selain sate dan bebek tentu saja.

Kemudian keempat orang ini melanjutkan wisata kuliner ke kota Pontianak dan Singkawang yang kental dengan asimilasi budaya Tionghoa dan Indonesia, terlihat dari ragam kulinernya. Makanan yang disantap di Pontianak dan Singkawang yaitu mie kepiting, choi pan dan pengkang.

Kebayang kan betapa enak dan gurihnya mie dipadu dengan kepiting, kemudian choi pan yang mirip dim sum tetapi isinya sayuran seperti daun kucai yang dilumuri minyak dan bawang putih goreng.

topkulinerpontianak
Choi Pan (sumber: topkulinerpontianak)

Pengkang adalah makanan mirip lemper yang terbuat dari ketan dengan isian ebi yang dibungkus dengan daun pisang berbentuk segitiga dijepit bambu lalu dibakar, kemudian dimakan dengan sambal kepah yaitu kerang yang hidup di perairan Kalimantan.

Menonton Film Aruna dan Lidahnya membuat tekad saya semakin kuat untuk mengunjungi Surabaya, Madura dan juga Pulau Kalimantan demi kuliner otentik yang lezatnya tiada tara. Duh jadi laper dan baper pas nonton film ini.

Film Aruna dan Lidahnya diproduksi oleh Palari film bekerjasama dengan CJ entertainment, nah CJ ini produsen film-film Korea bermutu, saya termasuk orang yang merasa puas dengan film Korea produksi CJ.

Skenario film Aruna dan Lidahnya digarap dengan apik, dialog-dialog berbobot, cerdas dan dewasa namun disampaikan dengan gaya komedi dan natural. Cerita tentang makanan, cinta dan persahabatan disertai kritik sosial yang jleb banget membuat saya tertawa sekaligus juga berpikir oh iya bener banget, ih itu gue banget deh hehehe.

Film ini juga akan membuatmu tersipu-sipu, sebel-sebel sayang dengan Aruna dan Farish yang saling memendam cinta tapi nggak berani ngomong ditambah cowoknya juga nggak pekaan. Pengen deh noyor kepalanya Farish sambil ngomong lo jadi cowok kok bego banget sih wkwkwkw……

Scene paling memorable menurut saya pas Nad dan Bono ikut clubbing dengan musik dangdutan di atas kapal di tepi pelabuhan di Surabaya. Lagu dangdut asyiq yang dipake itu berjudul Hoa Hoe yang dinyanyikan oleh Soimah emang bakal membuatmu auto goyang 🙂

Scoring musik dan Original Sound Tracknya (OST) keren cuy, bikin baper maksimal. Selain lagu yang dinyanyikan January Christy juga ada lagu Antara Kita yang dinyanyikan Monita Thalea, Takkan Apa dari Yura Yunita, Tentang Aku dari Jingga dan Panggung Sandiwara yang dicover oleh pengamen di dalam film.

Saking sukanya dengan film ini jadi pengen nonton berkali-kali, apalagi jika nontonnya ditemani orang tersayang trus pulangnya kulineran karena laper dan baper abis nonton 🙂

Bagaimana keseruan petualangan kuliner, kisah cinta dan persahabatan keempat orang dalam film ini? Apakah Aruna berhasil mendapatkan resep nasi goreng Mbok Syawal? Silahkan tonton di bioskop mulai tanggal 27 September 2018.

 

 

 

Iklan

39 comments

  1. Madura itu tempatku dibesarkan mbak Pink. Ada rujak bubur yang biasanya hanya muncul pas puasa, ada juga soto campor. Ada kripik singkong yang disebut kripik te’te. Kulinernya mmmmmh… Ngangenin kok. 😀😀😀

    Disukai oleh 1 orang

  2. Saya masih baca novelnya. Prepare buat nonton film ini hehe. Dan baca review ini makin bikin baper dan laper, jadi harus nonton film ini. Terima kasih untuk reviewnya Mba. Jadi semangat mau nonton 😁

    Disukai oleh 1 orang

  3. Udah nonton filmnya (walaupun belum baca bukunya). Mikroekspresinya Mbak Dian bener-bener asik ya. Tiktok antar pemain (terutama Oka dan Dian) juga seru. Hanya saja menurut saya harusnya bisa digali lagi tema kulinernya, biar ga terkesan agak kaya tempelan gitu aja hehe.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s