Kulon Progo: The Jewel of Java

Melihat Perbukitan Menoreh di Kulon Progo

Pagi masih terlalu dini, kabut masih menyelimuti kota Yogya ditambah hawa dingin menyusup ke dalam pori-pori kulit membuat diriku malas untuk beranjak dari peraduan. Namun saya bertekad mengalahkan rasa mager yang menjerat karena hari ini saya akan ke Kulon Progo, ada rasa penasaran, apa saja yang  ditawarkan Kulon Progo kepada traveler dengan klaim yang berani menyebut diri sebagai Jewel of Java. Dari beberapa kabupaten di provinsi D.I Yogyakarta, hanya Kulon Progo yang belum pernah saya sambangi.

Saya mengusulkan untuk mengeksplore Kulon Progo saat adik saya meminta pendapat tempat mana lagi yang harus dikunjungi selama di Yogya setelah kami puas mengelilingi kota Yogya dan banyak tempat wisata yang terletak di kabupaten Bantul. Kami berangkat ke Kulon Progo dengan menyewa sepeda motor seharga 60 ribu rupiah untuk satu hari penggunaan. Adik saya yang mengendarai motor sementara saya dibonceng di belakang memberi arahan bermodalkan peta dari Google maps.

Untuk menuju Kulon Progo kami mengambil jalur lewat jalan raya Wates yang relatif mudah karena ini jalan raya utama yang mulus dan minim belokan, karena ini perjalanan pertama kami ke Kulon Progo, tentu saja kami tidak mau kesasar jika melalui jalan alternatif yang tidak kami ketahui.

Memasuki Kabupaten Kulon Progo, kami disambut gerbang kabupaten yang bertuliskan The Jewel of Java, ah tulisan ini lagi batinku, sungguh slogan yang intimidatif, tak sabar ingin membuktikannya. Tujuan pertama kami adalah Waduk Sermo, waduk yang sangat luas dan menjadi sumber air yang penting di kawasan sekitar waduk, karena penasaran dengan keindahannya kami memutuskan naik ke tempat yang agak tinggi untuk menikmati Waduk Sermo dari sudut yang berbeda.

Waduk Sermo
Jembatan Langit

Sungguh indah melihat Waduk Sermo dari ketinggian, apalagi di waduk ada nelayan yang sedang manangkap ikan dengan perahu, mengingatkanku pada lukisan pemandangan alam atau foto-foto pemandangan alam fotografer majalah travel. Di tepi waduk terdapat penjual yang menjajakan durian, kami membelinya karena ingin mencicipi rasa durian yang dihasilkan dari tanah Kulon Progo. Durian yang manis legit, dimakan di sebuah warung kecil di tepi waduk sambil berbincang dengan pemilik warung yang menyediakan tempat untuk makan durian.

Durian manis legit dari tanah Kulon Progo

Sebuah awal yang manis di pagi hari telah terukir di Waduk Sermo, masih panjang perjalanan kami, berkat informasi penjual durian tentang sebuah tempat bernama Pule Payung yang indah, kami memutuskan pergi ke sana meskipun awalnya kami berniat ke Kalibiru, tempat wisata yang sudah terkenal di kalangan turis, namun bapak penjual durian meyakinkan kalau Pule Payung lebih indah tetapi lebih sulit untuk didatangi dibandingkan dengan Kalibiru karena letaknya lebih tinggi.

Sepanjang perjalanan dari Waduk Sermo ke Pule Payung, kami menjumpai beberapa tempat wisata yang membuat kami terdistraksi untuk mampir, tapi kami membulatkan tekad untuk lebih dulu mendatangi Pule Payung. Rupanya jalan ke Pule Payung benar-benar menjadi uji nyali, mulut kami berdua tak lepas dari berzikir karena curam dan tanjakan tinggi menuju Pule Payung. Tapi perjalanan yang sulit sebanding dengan keindahan pemandangan yang dilihat dari Pule Payung. Tempat ini juga tidak banyak pengunjung sehingga kami merasa bebas untuk mengambil foto tanpa antrian.

Wahana sepeda yang jadi favorit tempat berfoto

Biaya masuk Pule Payung 5 ribu, sementara untuk berfoto di berbagai wahana dikenakan tarif yang berbeda-beda tergantung tingkat kesulitannya, tarifnya terjangkau kok berkisar 10 ribu-30 ribu per wahana foto. Pilih saja wahana foto yang menurutmu paling lucu jika tidak ingin semua wahana dicoba.

Pule Payung dengan pemandangan Waduk Sermo

Usai dari Pule Payung, kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke air terjun sungai mudal. Bukan perjalanan mudah ke sungai mudal dari Pule Payung karena kami menembus hutan yang berbukit-bukit terjal, akhirnya kami menyewa motor satu lagi karena menggunakan motor matic berboncengan akan kesulitan untuk naik di berbukit menanjak, tinggi dan curam. Jadilah kami mengeluarkan budget tak terduga. Perjalanan memang menyediakan berbagai kejutan yang harus siap dihadapi. Tetapi kami bahagia karena jalan yang kami lewati menyajikan pemandangan perbukitan Menoreh yang luar biasa indah.

Air terjun Sungai Mudal menawan hati, mengobati rasa panas dan lelah selama perjalanan. Air terjun bertingkat-tingkat yang dapat dilihat sampai tingkat tertinggi dengan naik tangga dan melewati jembatan bambu yang disediakan. Karena lelah, saya tak mampu sampai ke air terjun paling atas, umur dan kurangnya olahraga memang nggak bisa bohong ya hehehe.

Air Terjun Taman Sungai Mudal
Air Terjun Taman Sungai Mudal

Pulang dari air terjun Sungai Mudal menuju Yogya kami mengambil jalur berbeda, kami lewat Nanggulan dengan pemandangan hamparan sawah menghijau kotak-kotak, indah sekali. Tak hanya itu, perbukitan Menoreh yang hijau berundak-undak juga memanjakan mata. Ah saya jatuh cinta dengan Kulon Progo. Masih banyak tempat yang belum sempat kami kunjungi karena keterbatasan waktu.

Saya menyelipkan sebuah doa agar kelak datang ke sini lagi….

Dan Tuhan menjawab doa saya saat teman-teman sekelas di kampus merencanakan piknik ke Kulon Progo sekalian mengunjungi rumah baru Bagas, teman kami di Plono Samigaluh. Kunjungan kedua kali ini, jalur yang diambil melewati jalan Godean menuju Kulon Progo dengan tujuan pertama air terjun Kembang Soka. Perjalanan menggunakan motor bersama-sama alias touring bersama sangat menyenangkan meskipun ada kendala kesulitan menaiki tanjakan yang berbukit-bukit namun kekompakan dan kepedulian diantara sahabat mampu mengatasi berbagai hambatan di perjalanan.

 

Jangan ngebut Mas, aku masih suka sama kamu 🙂

Kulon Progo itu indah justru karena sepanjang perjalanan kita akan disuguhkan pemandangan bentangan sawah dan perbukitan Menoreh yang hijau dengan perkebunan kopinya yang harum dengan resiko harus melewati jalanan terjal berbukit. Selain itu, kita bisa melihat aktivitas penduduk desa, di depan rumah penduduk banyak bunga cengkeh yang sedang dijemur. Wanginya menguap di udara, membekas dalam ingatan.

Air terjun Kembang Soka yang surut karena kemarau

Air terjun Kembang Soka yang kami datangi surut karena kemarau sehingga tidak tampak, sedikit kecewa mengingat kami sudah jauh ke sini. Tapi begitulah sebuah perjalanan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Akhirnya saya mengobrol dengan pengelola air terjun dan menanyakan alasan nama air terjun ini kembang soka, dulu katanya di dekat air terjun ada kembang soka yang berukuran besar dan berusia tua sehingga dinamakanlah air terjun tersebut dengan nama kembang soka meskipun kembang soka yang dimaksud sudah tidak ada lagi.

Kolam di air terjun Kembang Soka

Perjalanan dilanjutkan menuju rumah Bagas untuk makan siang, sebagai host, dia memberikan service yang memuaskan dengan menjadi guide yang sabar dan menyediakan makan siang yang nikmat dan gratis kepada kami sahabatnya 🙂

Perjalanan dilanjutkan menuju kebun teh Nglinggo dan bukit Ngisis. Kembali kami menempuh perjalanan yang tidak mudah, kontur daerahnya yang berbukit-bukit, sungguh menguras stamina dan keberanian.  Namun setelah sampai, mata kami kembali dimanjakan dengan pemandangan yang hijau menenangkan mata dan jiwa, segala penat selama perjalanan menguap sudah.

Keceriaan di kebun teh Nglinggo
Ada yang foto prewedding di Bukit Ngisis (hembusan angin semilir)
Bukit Ngisis

Kulon Progo menawarkan banyak petualangan kepada traveler yang suka tantangan, tempat wisata begitu banyak terutama wisata alam yang belum dieksplorasi. Traveling bukan tentang tujuan tapi pengalaman perjalanan itu sendiri. Menurut saya, cara paling menyenangkan ke Kulon Progo dengan road trip dan touring menggunakan sepeda motor, lalu temukan kejutan selama perjalanannya.

Saya melihat permata yang indah di Jawa, permata itu adalah Kulon Progo.

Jadi kapan nih kamu ke Kulon Progo?

 

Iklan

26 comments

  1. Mikir keras apa aku pernah ke Kulon Progo belum yak, eh ternyata udah waktu liat Nglinggo ehehehe. Jogja rasanya nggak ada habisnya. Aduh aku ngiler duriannyaaaaaaaaaaaaaaa.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s