Tentang Impian dan Keberanian Meninggalkan Zona Nyaman

 

Solo Traveling Ke Beijing

Setahun lalu saya membulatkan tekad untuk resign dari kantor, bukan hal yang mudah memutuskan resign karena saya sudah bekerja selama enam tahun di kantor yang sama. Saya butuh waktu lama untuk berpikir dan mempertimbangkan banyak hal sebelum menandatangi surat pengunduran diri ke bos. Hal yang paling bikin galau adalah bagaimana kehidupan ekonomi saya nanti setelah resign, maju mundur gemetar membayangkan saya tidak akan lagi menerima gaji rutin setiap tanggal 28 setiap bulannya beserta tunjangan kinerja dan THR lebaran. Galau luar biasa saat membayangkan itu semua hiks…hiks

Apakah teman-teman juga merasakan kegalauan yang sama sebelum resign?

Sebuah pertanyaan besar harus saya jawab sebelum memutuskan hal tersebut. Apakah impian yang ingin saya kejar sepadan dengan keputusan untuk resign? Saya memejamkan mata, membayangkan diri saya lima sampai sepuluh tahun yang akan datang. Kemudian saya berdiskusi dengan ibu dan adik-adik saya tentang keputusan untuk resign karena ingin melanjutkan kuliah program master di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Jangan ditanya soal sedihnya hari perpisahan di kantor, terutama dengan rekan-rekan kerja yang sudah enam tahun bersama. Tapi kehidupan harus terus berjalan maju, resign tidak berarti hubungan silaturrahim dengan bos dan juga rekan kerja berakhir, justru menjadi awal yang baru karena saya tidak terikat lagi dengan konteks pekerjaan dan profesionalisme saat bersama mereka, melainkan menjadi teman dan saudara sebenarnya.

Saya pindah dari Palembang ke Yogyakarta, tempat yang benar-benar baru dan asing bagi saya karena saya belum pernah merantau keluar dari Palembang. Di tempat inilah saya akan memulai perjalanan sebagai mahasiswa, status baru yang membuat dada saya sering berdegup kencang karena sudah lama saya tidak belajar di kampus sejak lulus kuliah S1 sekitar 8 tahun yang lalu. Apakah saya bisa menjalani status baru tersebut? Seperti apa teman-teman dan dosen saya nanti? Apakah mata kuliah saya nanti susah? Banyak sekali pertanyaan berkelindan di kepala membuat saya sering khawatir sebagai mahasiswa baru.

Saya mendapatkan kos yang dekat dengan kampus UGM dari rekomendasi teman, ibu kos saya baik hati dan teman-teman satu kos juga ramah dan menyambut saya dengan baik. Di kampus teman-teman kuliah saya anaknya asyik dan seru banget, meskipun tugas kuliah bejibun banyaknya, mereka tetap santai dan bisa diajak ‘menggila’. Dosen-dosen di kampus juga sangat humble dan support mahasiswa untuk belajar dan berpikir kritis.

Trip penuh keceriaan bersama teman kuliah di kampus UGM

Alhamdulillah meskipun jadi mahasiswa, kegiatan ngeblog tetap berlanjut, ditambah lagi saya bertemu teman-teman blogger Yogyakarta yang baik dan menginspirasi saya untuk rajin update blog hehehe. Bertemu blogger-blogger Yogya yang humble dan sangat support dalam perbloggingan memotivasi saya untuk jadi blogger yang lebih baik. Hubungan baik yang terjalin dengan sesama blogger juga membuka jalan rezeki untuk kerjasama, undangan event dan trip, serta posting berbayar di blog.

Membuat Pisang Aroma saat famtrip blogger ke Temanggung

Saya mengelola dua blog, blog domain pribadi dengan branding Pink Traveler, yang isinya seputar cerita saat saya traveling sebagai solo traveler di dalam negeri dan luar negeri dan satu blog lainnya di Kompasiana yang isinya seputar kuliner. Saya senang traveling dan mencicipi kuliner di dalam negeri dan luar negeri, lalu menuliskannya sebagai bentuk sharing agar informasinya bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Saat solo traveling ke Semarang

Sebagai perempuan yang melakukan solo traveling, saya ingin encourage perempuan di Indonesia untuk berani traveling sendirian, bahwa menjadi solo traveler itu aman selama dilakukan dengan persiapan yang matang. Dengan tujuan tersebut, saya menulis di blog dengan tema traveling yang lebih banyak saya lakukan secara solo dengan biaya sendiri tanpa disponsori.

Rasanya senang saat ada perempuan yang menulis komen di blog bahwa mereka sudah sampai di destinasi yang pernah saya tulis dan mereka merasa bahagia mampu mengalahkan rasa takut dan memberanikan diri untuk memulai solo traveling.

Menunggu flight di bandara sendirian

Resign dari kantor membuat finansial tidak stabil, untung masih single ya, tetapi di sisi lain justru membuat saya lebih sering traveling, meskipun tidak bisa ke tempat yang jauh dari Yogyakarta, maklum budgetnya tipis dan juga kewajiban saya sebagai mahasiswa harus saya tunaikan yaitu datang ke kampus untuk kuliah, bukan nitip presensi ke teman hahaha.

Selalu ada dua sisi dari setiap keputusan yang kita ambil ya kan. Sisi mana yang akan kita pilih untuk disyukuri?

 

 

Iklan

19 comments

  1. berhubung dsini ga nemu herba drink(semoga someday bs masuk pasar import) kan lumayan ya buat angetin badan di kala musim dingin.
    air jahe emang dasyat..paling make resep ala orang lokal sini aja: rebusan daun mint kering, jahe, air limon,kalau mausedikit manis..pas anget dikasih madu.

    Suka

  2. Setuju kak hidup sehat dengan mengatur waktu istirahat itu penting bgt yess kak, dan olahraga serta memperhatikan apa yg kita konsumsi hehe

    Suka

  3. Aku belum berani solo traveler mbak… Soalnya bingung gitu jadinya, mana susah buat foto diri sendiri beserta objek (bukan selfie) makanya aku lebih suka traveling bareng temen.. Eh main juga lah, kak ke blogku #jejakbiru nanti aku Sering-sering maen kesini juga….

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s