Cerita Pengalaman Ikut Pemilu di Tokyo

Suasana antrian WNI yang datang untuk mencoblos

Postingan ini ditulis oleh Sunandar Adikusumo, WNI yang sedang mengikuti program kerja magang di Jepang. Dia akan berbagi pengalamannya mengikuti pemilu di luar negeri yaitu di Tokyo. Saya memintanya menulis agar masyarakat Indonesia bisa mengetahui suasana pemilu di luar negeri.

Ayo udah pada yakin belum sama pilihan capres dan cawapres tahun 2019 ini? Eh, atau jangan-jangan pada mau golput nih? Kalo bisa, janganlah golput, golput mah sama aja dengan acuh tak acuh, tapi pada negara. Yah, mungkin temen-temen yang mau golput pada mikir mau presidennya siapa yang jelas cari duit sendiri, iya ga?

Emang iya sih, kita bakal tetep cari duit sendiri dan dimana-dimana emang gitu, tapi kesejahteraan ekonomi kita itu ditentukan oleh presiden yang temen-temen tak anggap tadi loh. Bayangin aja sekarang nilai tukar rupiah semakin kesini semakin turun. Dampaknya, kita harus kerja lebih keras lagi. Intinya, dibikin susahlah. Jadi, besok dateng ke TPS, gunakan hak suaramu ya jangan golput.

Nah, ini mau cerita pengalaman aja sih. Saya Sunan,  sudah 2 tahun ini merantau di negeri sakura Jepang. Hari minggu (14/4) kemarin, kita udah duluan coblos Capres Cawapres dan DPR RI. Kenapa lebih cepat? Hmmm mungkin karena ntar pas pemungutan suara bisa dilakukan serentak.

Dan bukan cuman di Jepang loh, seluruh pemilu luar negeri pun kabarnya dilakukan serentak. Tapi yang lucunya, di Jepang juga sebenarnya lagi musim kampanye juga loh, disini cara kampanye mereka unik banget. Jadi, kalo di Indonesia kan sering tuh ada spanduk-spanduk di tempel dimana-mana di tiang listriklah, di depan rumah-rumah warga lah, dimana-mana banyak lah pokoknya, dan itu buat satu pasangan calon beda-beda kan, jadi kebayangkan semrawutnya. Nah, kalo di jepang, itu tertib loh, papan spanduknya itu papan gede sekitar 2x6meter panjangnya, dan itu diisi space kotak-kotak kecil buat nama-nama spanduknya.

unik ya kayak buku tahunan sekolah bentuknya

Jadi rapi banget dah, bersih, and teratur. Itu spanduknya juga nggak diletakkan sembarangan, tapi di tempat-tempat umum kayak di taman, di samping stasiun/halte bus, yang jelas nggak di lampu merah apalagi di hati aku hahaha.

Tapi yang kerennya lagi bukan itu, tapi cara kampanyenya loh. Nggak ada calon yang bikin kampanye kayak bikin konser, ga ada. Disini kampanye keliling gitu, pake mobil yang ada toa-nya. Nah sambil rekaman di putar pake toa biar masyarakat mendengar apa visi misi si calon, si calon duduk di mobil sambil dadah-dadah, ada juga yang sambil お辞儀 ojigi maksudnya (tunduk untuk menghormati) tapi maksud ojiginya adalah memohon dukungan dari masyarakat setempat.

kampanye politik di Jepang

Terus ada lagi yang berkampanye di samping stasiun/di jalan/di lampu merah. Sama juga intinya mereka ojigi minta dukungan dari masyarakat. Tapi saya acungin jempol loh, berhubung di Jepang lagi musim semi dan suhu saat musim semi itu masih dingin dan mereka berdiri sambil ojigi dari pagi sampe sore. Kebayang kan kalau di Indonesia, udah pada kabur duluan mungkin karena kedinginan.

Oh iya, balik lagi ke coblos. Berhubung saya tinggal di daerah Saitama, jadi TPS terdekat ada di Tokyo, yang bertempat di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT). SRIT memang sering kali digunakan sebagai acara-acara festival Indonesia, atau ceramah-ceramah dari ustadz yang didatangkan langsung dari Indonesia, tempat sholat hari raya, dll.

undangan yang harus dibawa ke TPS

Sebelum bisa memilih, kita harus mendaftarkan diri di website PPLN Tokyo (buat yang berada di sekitaran Tokyo), pendaftarannya juga sudah dibuka dari jauh sebelum hari H tepatnya 6 bulanan yg lalu. Disana kita harus mengisi data-data diri, nomor identitas paspor, alamat di Jepang serta cara memilih. Iya benar, cara memilih.

Terdapat dua cara memilih yang disediakan, yaitu datang coblos ke TPS, dan yang satunya lagi lewat pos. Lewat pos ditujukan untuk WNI yang tidak sempat ke TPS karena alasan-alasan tertentu. Dan yang pasti, nggak bakal bisa celup tinta hitam, yah meskipun tanpa tawaran diskon dari berbagai tempat makan seperti di Indonesia bagi jari yang dicelup tinta 🙂

Jika ingin mengirim lewat pos
pengiriman pos lewat kotak pos

Kalau kita memilih lewat pos, maka kita akan mendapatkan surat suara serta amplop untuk mengirimkan kembali surat suara tersebut. Dan setelah menconteng (lewat pos), kita hanya perlu memasukkan surat suara tersebut kedalam amplop yang disediakan, dan masukkan kedalam kotak pos terdekat.

Kalau kita memilih datang ke TPS, maka kita akan mendapatkan undangan yang dikirim lewat pos hari sebelum hari H. Dan di hari H, yaitu 14 April 2019, kita hanya perlu membawa undangan tersebut serta paspor. Akan tetapi, bagi temen-temen yang belum sempat mendaftarkan diri, jangan khawatir, karena masih bisa mencoblos karena akan dimasukkan ke Daftar Pemilih Khusus (DPK) dengan catatan surat suara masih tersisa.

rela menahan dingin demi ikut pemilu dan tidak golput

Nah, mau bagaimanapun caranya asal nggak golput aja yak 🙂

So, temen-temen gunakan hak suara pilihmu dan jangan golput demi Indonesia maju.

 

 

Iklan

4 comments

  1. Kayaknya pemilu di jepang sana damai2 aja ya mbak… spanduknya juga keren.. ga ditaruh di sembarangan tempat… jadi kesannya lebih rapi… kapan ya indonesia seperti ini… hhhaha

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s